Hijab Style yang Aneh

Halo hijabers, terus terang tulisan ini dibuat untuk mengkritisi kaum Hawa yang sudah melakukan kebaikan tapi nanggung. Sekali lagi ini pendapat pribadi saya yang suka mengorek kesalahan orang lain.

Sebelumnya, saya pernah terheran-heran melihat wanita yang berjilbab tapi memakai kaos pendek, atau berjilbab tapi rambut depannya sengaja diperlihatkan, kali ini tambah lagi komentar saya tentang wanita berjilbab yang demen swafoto atau lebih kita kenal dengan istilah selfie.

Hijabers yang rajin unggah fotonya sendiri dan mencoret-coret atau menutupi dengan stiker pada bagian jidatnya itu biar apa?
Kalau jawabannya adalah karena foto tersebut ada rambut yang terlihat dan harus ditutupi, harusnya pilihlah foto yang benar-benar rapat, pakailah jilbab yang rapi sesuai syariat, bukan sesuai tren. Jangan salah tafsir, jilbab yang sesuai syariat agama bukan hanya Hijab syar’i yang panjang itu, jadi jangan merasa paling islam mentang-mentang memakai Hijab Syar’i.

Selain itu, wanita yang unggah foto kemudian wajahnya ditutup editan stiker, supaya apa?
Atau wanita bercadar tapi demen dengan swafoto atau selfie, tanggung sekali kalian bercadar kalau masih berharap like dan dipandang orang lain.
Ya buat apa repot-repot unggah foto yang tertutup, bukankah sama saja hasilnya andai foto itu tidak diposting? Kan sama-sama tak terlihat.
Kalau sembunyi ya sembunyi, sekalian zuhud! Jangan diunggah fotonya, bila perlu jangan main sosial media.

Udah bagus mau mengenakan jilbab, daripada tidak“, halo? Bukan begitu perbandingannya.
Andai kebaikan bertolak ukur demikian, iman kita pasti kian hari kian melemah. Kalau masalah ibadah jangan melihat ke bawah, ingat pesan nabi ketika kita melihat perkara duniawi lihatlah mereka yang di bawah agar dapat bersyukur, tapi lihatlah orang yang lebih baik di atas kita dalam perkara agama, agar ibadah kita kepada Allah semakin meningkat.

Wanita Sore Penyeduh Kopi

Kami para pemuda senang sekali memandang rumah itu kala sore tiba
ia akan duduk manis bersama ibunya yang sakit di beranda, ditemani secangkir kopi dan segelas jamu
Wanita yang bersorot mata teduh

Kulitnya tak begitu putih serasi dengan beberapa pakaiannya yang kalem
Semua orang faham pandainya dalam menyelaraskan warna
Dari cara kedua tangannya memegang cangkir dan raut wajah dingin penyeduh kopi
Ia bukan lagi makhluk amatir dalam menghadapi hidup
Cocok sekali untuk pria manapun dengan segala sikapnya

Namun hari-hari ini saat musim hujan telah berlalu tak ada isyarat kemana ia pergi
Padahal melihatnya menyeduh kopi adalah cara kedua kami untuk berdamai dari lilitan hutang

Kemungkinan kopi telah membuatnya tak bisa tidur dan membawanya merenung di kamar dengan setumpuk sajak tentang cangkir.

Lele Penyet

image

Malam itu dipinggiran jalan raya Yossudarso, secangkir teh hangat menemani lamunanku terlihat manusia lalu-lalang menunggangi besi yang bentuk dan mereknya berbeda-beda.
Kediri, meski bukan kota pegunungan namun kalau musim hujan pergi anginnya seperti jarum menusuki tulang, Secangkir teh hangat atau jahe sangat menenangkan raga kita.

Barusaja teh kuteguk seorang laki yang dari kerut mata dan rambutnya kutaksir berusia 36 tahunan mendekatiku sambil teriak pesan lele penyet dan kopi tanpa gula, Kami sama-sama berdiam diri menyepi-nyepikan deru mesin, sampai ia nyeletuk

“Aku mangan mas”
Aku hanya tersenyum mengangguk sambil mbatin iya aku ngerti
“Kok sendirian mas??? Masih muda kok anteng-anteng saja kamu ini”
“Hehe lagi pengen ketenangan pak” jawabku
“Kok gak lari ke masjid saja malah kesini kan maksiat tok banyak aurat seliweran”
“Yang penting kan gak dilihat to pak”
“Yow sosah mas, eman-eman bonget” bahasanya terdengar aneh karena mulutnya penuh makanan
“Lagi pusing pak, pacare ngambek hehe”
“Hohoho….”

Akhirnya kami tenggelam dalam perbincangan aku lebih banyak diam sebab menghormati orang tua, juga karena aku sedang bad mood.

“Kita kalau dihadapan wanita itu kaya gini nih mas” sambil menunjuk ikan lele dipiringnya
“Pertama dikasih umpan dulu enak, seneng, bahagia pokoknya. Di ulur kesana kemari, kita gak tau kalau ada senar dan mata pancing dalam kebahagiaan itu, sampai akhirnya srettt ditarik ke daratannya, kita coba berontak karena sulit nafas tapi kita dipukul biar lebih jinak lagi”
“Ooh gitu…” Wah agaknya aku mulai terbawa nisbatan cerita bapak ini
“Iya. gak cukup sampai disitu mas, nanti kita di gorok di beteti, di sisiki kulitnya, di cemplungin minyak panas, dimakan abis, nyisa tulang dibuang dikasihin kucing dan bisa apa kita???”
“Tapi kan gak semua gitu toh pak, tinggal pinter-pinterannya kita kan???, wanita ingin dimengerti, pria ingin dicintai”

Bapak itu diam sejenak meneguk minumnya setelah melahap habis lele penyet warung langgananku ini

“Ho-oh, emang gak semua gitu… itu cuman buat ibarat pegangan hidupmu, kowe wong lanang harus siap lahir batin tuk jadi pemimpin, jangan sampai terjerat senang sesaat kalau gak ada ujungnya jelas tersesat”
“Geh leres niku… setubuh pak hehe”
“Seng penting sabar, ojo pisan-pisan main kasar, sebab perjuangane kaum hawa iku ya gak bisa disepelekan beh mas aku ngerti bojoku ngenes antara hidup-mati tenan”

Deggggg…

“Yo wes mas tak pulang dulu, selak di uring-uring ibuke arek-arek ki ngko haha”