Traveling Syar’i

Saya menyukai perjalanan, berpindah dari satu tempat ketempat yang lain, bertemu banyak orang yang berbeda suku dan agama, memandangi ciptaan Tuhan yang aduhai tak bisa tertulis indahnya, kemudian “berlagak” menyadari betapa besar kuasa-Nya, masyaallah.

Berdalih silaturahmi untuk memperbaiki kualitas diri di mata orang lain, menyambung persaudaraan yang telah lama memudar. Ya, saya menyukainya, menyukai perjalanan melewati desa-desa, menghafalkan jalanan beberapa kota agar bisa merangkai cerita dan membagikan potret di sosial media.

Lagipula, Ulama dahulu juga banyak yang menjadi travellers. Jadi apa ada yang sungsang dengan saya? Banyak!
Poin utamanya; Ulama melakukan perjalanan sebagai musafir untuk mendekatkan diri kepada Allah, tidak ada embel-embel lainnya “laa maqsuda illa allah”.

Travelingnya ulama bukan sekedar pergi meninggalkan sanak famili dan tanah kelahiran, namun juga meninggalkan nafsu yang ada. Oleh karenanya travellers Allah seperti itu hanya membawa ongkos dan melakukan packing secukupnya, cukup untuk tawakkal dan terus mengingat Allah. Kemudian kembali dengan iman dan ketakwaan yang bertambah, itulah dia musafir.

Travelers itu banyak madlarat dibanding maslahatnya. Percayalah mereka yang bepergian selalu rindu pelukan, masih nyaman di sini rumah kita sendiri.

Kecuali atas nama menafkahi keluarga, untuk saat ini saya kira, traveling bukanlah sesuatu yang patut untuk saya idamkan. Kenapa demikian? Ya karena ngabisin uang lah heuheu daripada buat jalan-jalan mending buat beli kuota, liat google maps, liat rumah mantan juga bisa dan gak sungkan.

Hijab Style yang Aneh

Halo hijabers, terus terang tulisan ini dibuat untuk mengkritisi kaum Hawa yang sudah melakukan kebaikan tapi nanggung. Sekali lagi ini pendapat pribadi saya yang suka mengorek kesalahan orang lain.

Sebelumnya, saya pernah terheran-heran melihat wanita yang berjilbab tapi memakai kaos pendek, atau berjilbab tapi rambut depannya sengaja diperlihatkan, kali ini tambah lagi komentar saya tentang wanita berjilbab yang demen swafoto atau lebih kita kenal dengan istilah selfie.

Hijabers yang rajin unggah fotonya sendiri dan mencoret-coret atau menutupi dengan stiker pada bagian jidatnya itu biar apa?
Kalau jawabannya adalah karena foto tersebut ada rambut yang terlihat dan harus ditutupi, harusnya pilihlah foto yang benar-benar rapat, pakailah jilbab yang rapi sesuai syariat, bukan sesuai tren. Jangan salah tafsir, jilbab yang sesuai syariat agama bukan hanya Hijab syar’i yang panjang itu, jadi jangan merasa paling islam mentang-mentang memakai Hijab Syar’i.

Selain itu, wanita yang unggah foto kemudian wajahnya ditutup editan stiker, supaya apa?
Atau wanita bercadar tapi demen dengan swafoto atau selfie, tanggung sekali kalian bercadar kalau masih berharap like dan dipandang orang lain.
Ya buat apa repot-repot unggah foto yang tertutup, bukankah sama saja hasilnya andai foto itu tidak diposting? Kan sama-sama tak terlihat.
Kalau sembunyi ya sembunyi, sekalian zuhud! Jangan diunggah fotonya, bila perlu jangan main sosial media.

Udah bagus mau mengenakan jilbab, daripada tidak“, halo? Bukan begitu perbandingannya.
Andai kebaikan bertolak ukur demikian, iman kita pasti kian hari kian melemah. Kalau masalah ibadah jangan melihat ke bawah, ingat pesan nabi ketika kita melihat perkara duniawi lihatlah mereka yang di bawah agar dapat bersyukur, tapi lihatlah orang yang lebih baik di atas kita dalam perkara agama, agar ibadah kita kepada Allah semakin meningkat.