Boleh Fanatik Asal Tidak Bodoh

Kita boleh fanatik pada sesuatu tapi tidak boleh bodoh.

Misalnya saja kita sebagai orang desa fanatik pada NU kemudian mereka yang di kota fanatik terhadap kelompok 212 dan semacamnya. sudah menjadi rahasia umum bahwa kedua kelompok itu saling bertentangan dalam beberapa poin kecil saja, namun memiliki kesamaan dalam beberapa poin yang lebih besar.

Pertanyaannya, sejak kapan sesuatu yang kecil bisa menggeneralisasi sesuatu yang besar?

Yang perlu disadari bahwa perbedaan dari keduanya hanya beberapa saja, bukan keseluruhan. Antara NU dan 212 sama-sama mengakui bahwa Allah adalah Tuhan yang Esa dan Muhammad adalah Nabi-Nya, dan itu adalah suatu pondasi utama untuk mereka pegang.
Namun anehnya fanatik dari keduanya malah menjadikan statement seakan-akan keduanya adalah musuh.

Aneh, lah sama-sama mengimani Allah Esa kok dianggap musuh? Secara logika harusnya kan yang menjadi musuh itu mereka yang tidak mengakui Allah itu Esa dan Muhammad adalah nabi terakhir.
Atau jangan-jangan yang menjadikan mereka bermusuhan hanya karena beda pilihan politik? Nauzubillah banget ya.

Terus terang saya menulis ini karena resah beberapa orang yang mengaku NU menampilkan mimik wajah benci saat melihat kelompok 212 yang memakai cadar, pun sebaliknya teman-teman dari 212 yang memakai cadar merasa paling benar dan mengira bahwa bercadar di luar shalat bagi wanita itu hukumnya wajib, sehingga mereka yang tidak memakai cadar berarti dosa.
Permasalahan sebenarnya itu bukan wanita memakai cadar atau tidak, masalahnya adalah wanita yang mau berpakaian menutup aurat atau tidak itu lho gaes, ya Allah.
Oh ya, masalah cadar ini bisa dilihat di kitab I’anah at-Thalibin dan atau Hasyiyah Bujairimi dll.

Kita ini terlalu sering menghukumi sesuatu dengan kebodohan, ibaratnya gak pernah praktek dan baca tutorial masak ikan asin, kok menghukumi semua ikan asin yang dimasak itu enak. Masuk gak sih pengibaratannya? Wkwk

Intinya, kita ini kenapa sih? Eh saya ding yang kenapa sih.
Semoga setelah ini saya gak dianggap liberal, salam uwu.

Resiko Beribadah

Jadi santri itu rumit, berat dan sedikit cupu.
selain harus siap dimintai pertanggungjawaban akhirat, juga harus siap menghadapi cibiran orang yang mengatakan bahwa santri pekerjaannya tak menentu, urusan materi pastilah tertinggal. Meskipun kenyataannya begitu, santri tidak boleh pendek dalam berpikir.

Begini, Mahasiswa itu lebih berat juga lebih besar resikonya. Orang tua berani membiayai sekian juta demi anaknya agar mendapatkan pekerjaan yang pantas dan memiliki materi yang cukup. Dibalik semua itu, Mahasiswa lebih beresiko menjadi cibiran masyarakat apabila mereka hanya menjadi seorang pedagang atau jasa kurir.

Masalahnya, misal saja tujuan hidup ini adalah duniawi, maka pendidikan bukanlah taruhannya. Pun sebaliknya, karena tujuan hidup adalah akhirat, jenis pendidikan juga bukan penentu berhasilnya seseorang.
Maksud saya, semua orang pasti beresiko. Hanya saja yang lucu adalah kenapa manusia malah memilih yang beresiko? Kenapa tidak ambil aman saja.

Maling ayam itu juga berat, harus bangun malam untuk melakukan pekerjaannya dan sangat beresiko. Tahajud itu juga berat, harus bangun malam untuk mendapatkan pahalanya tapi tidak beresiko kan? Padahal tidak beresiko, kenapa kita tetap tidak melakukannya.