Primordialisme

Aku dan mungkin kamu, Dik. Adalah seseorang yang seringkali mengedepankan pandangan primordialisme, memegang teguh hal-hal yang kita bawa sejak kecil.

Cara berpikir kita selalu berdasarkan dengan lingkungan, istiadat maupun kepercayaan yang kita warisi.

Kita sulit mempercayai apa-apa yang bersebrangan dengan kebiasaan hidup, dan dengan lantang kita berani memutuskan bahwa hal yang tidak “seperti biasanya” maka hal itu mustahil atau bahkan tidak benar.

Kita terlanjur percaya dan hanyut pada sebab akibat yang biasa kita lihat, andai nanti aku menanam benih padi, pasti yang kamu bayangkan panennya adalah padi, padahal bisa saja benih padi membuahkan semangka. Dan itu bukanlah hal mustahil atau ghaib.

Pola pikir kita tidak hanya sebab-akibat, banyak hal lain yang perlu kita pelajari. Bahwa hidup ini tidak mengalir, aku dan kamu adalah objek kesengajaan dari Tuhan.

Kalau kau sedang membaca surat Al-Baqarah, Dik. cobalah pahami arti “orang yang percaya akan hal ghaib dan mendirikan sholat” adalah “mereka yang yang mendapatkan petunjuk dari Allah dan mereka adalah orang yang beruntung”

Maka suatu hari jika kalimat-kalimat doaku ditiup angin dan menutup jendela kamarmu saat kamu kedinginan, percayalah itu bukan sekedar ketidaksengajaan.

Mencintai dengan Cara yang Sepi

Mereka yang terluka, menghabiskan waktunya untuk menutup kesempatan dan menitikkan air mata, sedang ia yang jatuh cinta cenderung menyibukkan diri dengan yang dicintai dan menjadi tak peduli selain cinta.

Terus terang aku sedang terluka, telah lama aku menepikan harapan dan kesempatan, kemudian aku terluka lagi menyadari bahwa ia telah pergi.
Aku tak pernah tahu bahwa selama ini luka dalam diriku tak sembuh dengan begitu saja, tiap luka selalu membaik atas sebab-sebab, meskipun tak terlihat.

Karena aku kira, tiap manusia selalu memiliki obat tak terlihat. Dia yang selalu cemas saat kita sakit dan diam-diam mendoakan dari kejauhan, dengan caranya yang sepi.
Dia mencintai kita dengan doa, dan kemungkinan kita tak mengetahuinya.

Penjelasan

Benar katamu, aku binatang
Mencintai dengan tujuan
Hatiku rimba tuk tubuhmu
Tapi aku menyimpan maumu

Mestinya kamu segera kembali
Sedang aku menjadi sepi
Aku cemas, kamu tak mengerti
Tuk bahagia tak perlu dipaksa

Kalau kamu bertanya kenapa aku tega
Aku akan mengaum dan tertawa
Biar luka menuntunmu ke surga

Perayaan

Sembilan belas tahun setelah kelahiranmu
tentang renyut jantungku
sebagai tempat perayaan ulang tahun berikutnya
haruskah kuyakini itu
saat aku tak berkeinginan
dengan siapa pergi ke pelaminan

Dua puluh satu tahun setelah hari kelahiranmu
kau merayakan pesta pernikahan dan ulang tahun secara bersamaan
sedang aku merayakan sesal dalam-dalam
kucoba yakinkan
hidup tidak sepi meski tanpa pasangan

Tiga puluh tahun setelah hari kelahiranmu
kau mulai merayakan kelahiran anak kedua
sementara aku tak lagi merayakan apapun
semakin ku yakin
kehidupan hanya mengulang-ulang hari kelahiran yang menyakitkan

Tiga puluh dua tahun setelah hari kelahiranmu
kau berkabung menangisi perpisahan, meratapi kesendirian
namun kau tetap merayakan ulang tahun bersamaku dan anak-anak kita
aku benar-benar yakin
pernikahan hanya menunggu perayaan-perayaan

Keruh

Setidaknya, sebagian orang pernah masuk pada ruang yang tak ia kenali dan sulit untuk diceritakan.
Mereka hanya sanggup mememeluk lutut sendiri sambil menatap langit, menunggu cahaya menerobos dan menggambarkan keadaan.
Sebagian lagi, menunduk tanpa harapan, ditimang oleh keraguan.

Ada kebingungan yang menelusupi dadaku, perihal kedatangan selalu berujung kepergian.
Bagaimana seseorang dapat memastikan kebenaran pilihannya? Mencintai tanpa memiliki ataukah memiliki tapi tidak mencintai.