Primordialisme

Aku dan mungkin kamu, Dik. Adalah seseorang yang seringkali mengedepankan pandangan primordialisme, memegang teguh hal-hal yang kita bawa sejak kecil.

Cara berpikir kita selalu berdasarkan dengan lingkungan, istiadat maupun kepercayaan yang kita warisi.

Kita sulit mempercayai apa-apa yang bersebrangan dengan kebiasaan hidup, dan dengan lantang kita berani memutuskan bahwa hal yang tidak “seperti biasanya” maka hal itu mustahil atau bahkan tidak benar.

Kita terlanjur percaya dan hanyut pada sebab akibat yang biasa kita lihat, andai nanti aku menanam benih padi, pasti yang kamu bayangkan panennya adalah padi, padahal bisa saja benih padi membuahkan semangka. Dan itu bukanlah hal mustahil atau ghaib.

Pola pikir kita tidak hanya sebab-akibat, banyak hal lain yang perlu kita pelajari. Bahwa hidup ini tidak mengalir, aku dan kamu adalah objek kesengajaan dari Tuhan.

Kalau kau sedang membaca surat Al-Baqarah, Dik. cobalah pahami arti “orang yang percaya akan hal ghaib dan mendirikan sholat” adalah “mereka yang yang mendapatkan petunjuk dari Allah dan mereka adalah orang yang beruntung”

Maka suatu hari jika kalimat-kalimat doaku ditiup angin dan menutup jendela kamarmu saat kamu kedinginan, percayalah itu bukan sekedar ketidaksengajaan.

Sesuai dengan yang tak sesuai

Banyak kejadian besar yang telah kulewati belakangan. sebenarnya ingin ku bagi dan mengabadikannya melalui kata-kata, tapi kepala rasanya nguing-nguing dan berkeringat. saya jadi bercanda dengan diri sendiri “wah apa ini pertanda akan turun wahyu?” kemudian saya tertawakan sendiri becandaan itu heuheu tipis saja.

Ku buka buku-buku inspirasi, tulisan positif apa itu, bahkan catatan yang pernah ku rangkum sendiri, tujuan mula ingin bangkit dan berdiri dibatas minimal terpuruk tapi aku tak tahan, akhirnya muntah huruf-huruf. kulit pun mulai berbintik merah kecil-kecil dan sudah ada yang memastikan kalau saya alergi kata-kata.
Cinta juga mengetuk pintu rumah, dia berlagak seperti pahlawan yang ingin menyelamatkanku dari kebingungan tak beralasan ini. lembut dan kalem ia merayu sedikit-dikit dengan andalan senyumnya yang seperti garis lengkung bulan sabit. cinta, kau pahlawan kurang kerjaan datang ke hatiku yang aku sendiri tak menghuninya.

Lidahku sering berjalan-jalan melewati puluhan pasang telinga, sesekali bersarang di kepala mereka, menjamur dan menjadi sugesti. tapi fisik dan kenyataan tak sedemikian teraturnya, lidah adalah lidah, hati adalah hati dan tubuhku tak pernah serasi beradaptasi dengan anggotanya sendiri. parah!

BHAYANGKARA

Kini aku harus percaya bahwa kenangan indah nun agung bisa terwujud dari pertemuan singkat.

Aku juga harus mengiyakan bahwa cinta dapat mengawal seseorang sampai disuatu keadaan yang tiada pernah besit untuk dikenang. Agaknya benar jika kita tidak pernah bisa mempercepat atau membuatnya lambat.

Dan tak bisa kupungkiri pula jika suatu saat kita bersama dengan yang dicintai semuanya benar-benar tidak masuk akal!. Aku lupa dan tak bisa menggambarkan tempat pertemuan itu lagi, entah surga atau neraka, yang kuiingat hanyalah parasmu dan caramu tersenyum malu. Mungkin saat itu aku sedang dalam pengertian cinta yang tidak masuk akal. seharusnya aku bingung karena tersesat dan tak tau arah namun kebingungan itu pudar beralih menjadi seluruhnya dirimu. 

Tak pernah kusangka sampai disini, direngkuh kasih sayangmu yang istimewa dan penuh penjagaan.

Kisah Mengingatmu

Tengah malam adalah waktu paling syahdu untuk hati mengingat-ingat kembali tentangmu, kerap kali mataku tertegun memandang langit tiba-tiba sudah disambang matahari lagi. Meskipun dalam angan-angan kita bisa meringkas kenangan begitu cepat atau melambat, tapi tentangmu tiada usai aku merangkainya.

Kucoba segala macam cara untuk mengembalikan hidup, dimana dan kapan aku mulai mengenalmu? ingatan tak mampu menembus saat aku berada di kandungan, jadi sepertinya bukan di sana kita berkenalan. Kepalaku juga hampir leleh membakar kalimat-kalimat yang kuucap saat balita, aku tak mampu memahaminya, tak mungkin aku berkata-kata dan menyapa di sana; kala itu.

Aku tumbuh dewasa dan mulai mempelajari gerak maupun bahasa, akhirnya di masa inilah sepertinya aku mulai mendengar namamu, mendengar keanggunanmu. Namun mataku belum bisa memberi rekaman tentang bagaimana engkau. Mungkin kau pernah lewat depan rumahku namun aku belum mengerti bahwa itulah kau yang anggun itu.

Bertahun-tahun hati jatuh cinta namun entah pada siapa, orang tua dan beberapa guru menunjukkan rumahmu, kudatangi tiap hari melewati jalan berliku, tak juga jumpa denganmu. Aku mulai tak perduli dengan kebingungan dan lelahnya mencari tentangmu, putuslah asaku diambang kebodohan diri sendiri.

Aku pergi meninggalkan jarak, menjauh dan berjalan mengikuti petunjuk tidak pasti. Mungkin engkau mengira aku tak sejati dalam menginginkanmu, tapi percayalah meski tubuh tiap detik semakin menjauh, nama kau tak seremeh itu dalam hatiku.

Seringkali aku mendapat kabar bahwa kau dekat denganku, namun mataku tak juga yakin akan hal itu.
Kuakui bahwa isyarat-isyaratmu sering menelusupi jiwaku hingga candu dan meninggalkan rindu.
Hal ini pula yang membuat banyak orang tak percaya, bahwa meskipun aku belum hakikat bertemu namun aku sudah rindu. Bagaimana mungkin? Hatiku berusaha menjawabnya dengan perlahan, ia menjelaskan bahwa rindu adalah buah dari cinta, dan cinta tidak mungkin ada tanpa perkenalan.

Mungkin engkau sering memperlihatkan dzatmu, mengobati lukaku. namun aku tak pernah sadar bahwa kaulah itu.
Maafkan kekasih, ijinkan kudekatimu sekali lagi dan jangan lepaskan aku.

Tetaplah Sederhana Setelah Kita Menikah

Kalau nanti kita dinikahkan Tuhan, bisakah kamu sederhana saja? Tanpa gaun bermanik berlian atau makeup yang bisa membuatku pangling pada penciptamu

Pada pertama-tama, ketika hidup seseorang mengambang setelah menikah, kuharap kamu tetap sederhana dengan canda tawamu dan menghemat keuangan
Belanjalah sesukamu namun kamu harus menjadi istri yang cerdas, agar kita bisa lekas membangun rumah sendiri seperti impian semua orang

Saat aku mulai tersungkur tetaplah sederhana tak perlu panik, hidup tak ada yang tak jatuh, sekalipun hidup yang penuh kebaikan dan paling dekat dengan Tuhan
Samakan pula saat aku kembali ke rumah dengan hasil kerja yang melimpah, kamu harus tetap sederhana dan biasa, karena aku akan benar-benar cemburu bila hatimu sudah dipenuhi dunia sedangkan aku dan anak-anak terkucilkan disana. Apalagi Tuhan?

Sederhanalah dalam memandang hidup ini, seperti sebuah garis alamiah yang membentangi cakrawala sebagai batas antara laut dan langit.
Kita cukup menghayatinya dari daratan, karena garis itu hanya khayalan
Hati kita adalah pusara kesederhanaan sebelum fikiran datang meracuninya

Meski kita dahulu bukanlah orang yang sederhana, maukah kamu mengupayakan semuanya sederhana, seperti perkenalan kita dulu
aku akan berusaha sederhana pula dalam memanjakanmu seperti katamu bahwa hidup kita tidak sepenuhnya untuk satu orang

Jangan takut, sederhana bukanlah kemiskinan atau kekayaan
Sederhana adalah sifat kita menghadapi perbedaan dan menyetarakannya
Mengembalikan segala perkara pada tempatnya dan meniadakan diri sendiri
Menyeimbangkan rasa takut dan harapan