Traveling Syar’i

Saya menyukai perjalanan, berpindah dari satu tempat ketempat yang lain, bertemu banyak orang yang berbeda suku dan agama, memandangi ciptaan Tuhan yang aduhai tak bisa tertulis indahnya, kemudian “berlagak” menyadari betapa besar kuasa-Nya, masyaallah.

Berdalih silaturahmi untuk memperbaiki kualitas diri di mata orang lain, menyambung persaudaraan yang telah lama memudar. Ya, saya menyukainya, menyukai perjalanan melewati desa-desa, menghafalkan jalanan beberapa kota agar bisa merangkai cerita dan membagikan potret di sosial media.

Lagipula, Ulama dahulu juga banyak yang menjadi travellers. Jadi apa ada yang sungsang dengan saya? Banyak!
Poin utamanya; Ulama melakukan perjalanan sebagai musafir untuk mendekatkan diri kepada Allah, tidak ada embel-embel lainnya “laa maqsuda illa allah”.

Travelingnya ulama bukan sekedar pergi meninggalkan sanak famili dan tanah kelahiran, namun juga meninggalkan nafsu yang ada. Oleh karenanya travellers Allah seperti itu hanya membawa ongkos dan melakukan packing secukupnya, cukup untuk tawakkal dan terus mengingat Allah. Kemudian kembali dengan iman dan ketakwaan yang bertambah, itulah dia musafir.

Travelers itu banyak madlarat dibanding maslahatnya. Percayalah mereka yang bepergian selalu rindu pelukan, masih nyaman di sini rumah kita sendiri.

Kecuali atas nama menafkahi keluarga, untuk saat ini saya kira, traveling bukanlah sesuatu yang patut untuk saya idamkan. Kenapa demikian? Ya karena ngabisin uang lah heuheu daripada buat jalan-jalan mending buat beli kuota, liat google maps, liat rumah mantan juga bisa dan gak sungkan.

Cahaya Bukanlah Milik Kita

103505_cahaya-matahari-senja_663_382

Pada suatu ketika semua anak Adam akan dianugerahi oleh Allah dengan sifat “khusus/istimewa”, yang menyebabkan seseorang akan tertutup sifat ke-manusia-annya dan digantikan sementara dengan sifat Allah yang Istimewa itu.

Keistimewaan atau kehebatan yang ada pada manusia itu tidaklah bersifat abadi, sebab suatu saat Allah akan mengambilnya kembali. tak ubahnya seperti cahaya matahari yang menerangi bumi, pada hakikatnya cahaya tersebut bukanlah¬† milik bumi, karena nantinya sinar yang menerangi bumi itu akan hilang karena kembali pada Sang Pemilik, maka seluruh jagat raya kembali pada sifat aslinya yaitu sebuah “kegelapan” yang menjadi kata lain dari sifat “kebodohan manusia”. sebab cahaya itu bukanlah berasal dari bumi dan bukan pula untuknya, hanya saja cahaya matahari itu memang dikehendaki untuk sementara melintas menerangi bumi.

sifat ke-manusia-an diibaratkan dengan sebuah keadaan gelap. gelap adalah sifat anak cucu Adam yang selamanya tidak kan pernah bisa terlepas. sedangkan cahaya itu ibarat sifat ke-khusus-an milik Allah yang tidak mungkin lenyap adanya, cahaya akan melintasi bumi (manusia) dan suatu nanti akan kembali pada Allah, sehingga manusia pada tetap berada pada hakikatnya sendiri yaitu kebodohan yang diserupakan dengan gelap.

mengapa Allah SWT berbuat demikian? karena seperti ungkapan Ulama-ulama Sufi “bila Allah menghendaki seseorang untuk dekat pada-Nya, maka Allah akan menutupi keburukan manusia itu dengan sifat-Nya yang agung nan mulia”

Wallahu A’lam

Ketenangan

Tiap individu memaknai ketenangan dengan ilmunya masing-masing, sebagian lagi tak ambil pusing tentang apa itu sebuah ketenangan, jalani saja seperti air mengalir, kalau lagi mujur ya jatuh juga pada hakikat ketenangan itu sendiri.

saya sendiri pernah jungkir balik mencari ketenangan, karena hidup saya cukup mobat-mabit dalam urusan batin khususnya. setahun dua tahun beberapa tahun belum juga ketemu tuh sama yang anteng-antengan, boro-boro ketemu, terendus baunya saja tidak.
Hmm numpang curhat sedikit nih, kata orang-orang saya ini orang yang dewasa terlalu dini, maksudnya dewasa fikiran. Kata orang lho ini, saya sendiri sebenarnya tidak merasa demikian, biasa wae ki.
Jadi sejak kecil saya ini memang sering berkumpul dengan orang-orang yang usianya jauh beberapa kali lipat dibanding umur saya, ketika menginjak usia kira-kira 16 tahunan fikiran saya sudah terinfeksi hal-hal aneh (suatu saat kalau diberi kekuatan untuk menulis hal aneh ini, akan saya ceritakan).
Saat masa puberitas itu saya sering menuliskan beberapa pertanyaan yang sulit untuk diajukan, mungkin semua orang bisa menjawabnya tapi entah mengapa pertanyaan itu sendiri malah sulit untuk diungkapkan.

Balik ke masalah ketenangan, saya sempat berfikir bahwa ketenangan itu ada dan harus dicari, tahun 2008-an insting saya bekerja lebih besar dalam mempengaruhi jalan hidup, dulu saya sering berjalan kemana saja tanpa tujuan saat malam hari, pernah juga pergi keluar kota beberapa kali, ikut-ikutan teman mendaki gunung-gunung. Tujuannya adalah mencari ketenangan, namun setelah sampai disuatu tempat yang dianggap tujuan disana tidak ada apa-apa, kosong momplong, ya ada sih tapi hanya sebuah pertanda yang samar-samar. maksud saya ketenangan itu tidak pernah saya temukan ketika saya sudah berhenti di tempat yang saya anggap tujuan.

Hari ini, saya kemudian sedikit tercerahkan bahwa ketenangan itu bukan tersimpan disuatu tempat, yang untuk menggapainya harus bersusah payah melanglang buana. Justru ketenangan adalah sebuah perjalanan atau proses dalam diri sendiri. Pengertian ini menurut pengalaman yang saya alami sendiri, jadi menurut orang lain mungkin berbeda lah.
seperti perjalanan ketika saya ke gunung misalnya, ketika sampai puncak dalam relung hati yang paling dalam cieilaaah… sebenarnya saya tetap biasa saja, tak ada yang istimewa. Atau ketika saya pergi kesuatu kota dengan tujuan mencari ketenangan dulu, justru yang saya rasakan ketenangannya pada saat berada di perjalanannya.

Beberapa hari yang lewat, ada teman yang bertanya pada saya kira kira begini: supaya bisa tenang itu bagaimana ya? Dimanapun tempatnya saya ingin nyaman, tenang.
Saya tidak bisa menjawabnya, hanya cengangas cengenges macam kuda poni.

Dan kesimpulannya, menurut keterbatasan insan lemah yang kurus jangkung ini, ketenangan itu ibarat sebuah rantai yang mengaitkan beberapa gear agar roda dapat berjalan, kalau rantai itu kendor sudah pasti kendaraannya tidak bisa berjalan normal atau tenang, anteng gak hulig-hulig. Kalau kita ingin tenang bin anteng dalam perjalanan, baiknya kita cek dulu apakah rantai dan kelengkapan kendaraan kita sudah benar, sudah memenuhi uji standar hidup manusia.
intinya, semua harus normal dan ikuti peraturan-peraturan yang ada agar kita bisa menuju Tuhan terasa nyaman, tenang dengan senyum-senyum manis dikit. Hehe.

Wallahu a’lamu bisshawab.

Sebelum Aku Sampai Kita

the_kuang_original_wallpaper_highdefinition_picture_166274

/S

ebelum ku mengenalmu dan sebelum kau terperosot di samudera cintaku
suatu ketika namaku yang hanya tiga huruf ini belum kau kenalidi saat jarak mata kita masih terlalu jauh
Sebelum perasaanku juga belum kau sentuh

dalam ruang hatiku berpijar cahaya yang memantul ke mimpiku
terciptalah bayang tersenyum indah memegang tanganku
ku rasakan detak jantungmu bahagia dalam pelukanku
basahi jiwaku sejuk menusuk hatiku
yakinku pastilah dirimu tulang rusukku

/mungkin selama kita bersama menyulam cinta
sering kau tertusuk jarum yang ku punya
ku tau ku tak mampu menjadi yang terbaik
tak bisa menerjemahkan setiap air mata yang menitik

namun tulusnya kasih selau menaungi kita berdua
karena setiap suka ada duka jua
ku mengerti cinta datang sebagai sinar
sehingga membuat kita tetap tegar
ku tau ikatan ini takdir suci
selayaknya pula cinta kita teruji

/tiada masa yang sanggup memisahkan kita
meski raga ku semakin renta
dengan tangan bergetar dan kulit yang tak lagi halus
percayalah rasa ini abadi tulus

sampai pun nafas berhenti
kau tak kan pernah terganti

Surat Terakhir Dari Thus

hjkuyhk

Wasiat Terakhir Syech Abu Hamid Al-Ghazali  (Imam Ghazali)

surat ini ditemukan oleh adiknya dibawah bantal pembaringan Imam Ghazali yang terakhir.

 

***

Katakan pada para sahabatku ketika mereka melihatku mati menangis untukku dan berduka bagiku,
Janganlah mengira bahwa jasad yang kau lihat ini adalah aku.

Dengan nama Allah,kukatakan padamu ini bukanlah aku

Aku adalah jiwa sedangkan ini hanyalah seonggok daging
Ini hanyalah rumah dan pakaian ku sementara waktu

Aku adalah harta karun atau jimat yang tersembunyi
Dibentuk oleh debu yang menjadi singgasanaku

Aku adalah mutiara yang telah meninggalkan rumahnya

Aku adalah burung dan badan ini hanyalah sangkarku
Dan kini aku lanjut terbang dan badan ini kutinggal sbg kenangan

Maha suci Allah yang telah membebaskan aku dan menyiapkan aku tempat di surga tertinggi
Hingga hari ini aku mati,meskipun hidup diantara mu.

Kini aku hidup dalam kebenaran dan pakaian kuburku telah ditanggalkan.
Kini aku berbicara dengan para malaikat diatas tanpa hijab, aku bertemu muka dengan Rabb ku.

Aku melihat Lauh Mahfuz, dan didalamnya ku membaca apa yang telah, sedang dan akan terjadi.

Biarlah rumahku runtuh,baringkan sangkarku di tanah, Buanglah sang jimat, itu hanyalah sebuah kenangan,tidak lebih dari itu

Kesampingkan jubahku,itu hanyalah baju luarku
Letakkan semua itu dalam kubur, biarkanlah terlupakan

Aku telah melanjutkan perjalananku dan kalian semua tertinggal.
Rumah kalian bukanlah tempat ku lagi.

Janganlah berpikir bahwa mati adalah kematian, tapi itu adalah kehidupan
Kehidupan yang melampaui semua mimpi kita disini.

Di kehidupan ini, kita diberikan tidur.
Kematian adalah tidur,tidur yang diperpanjang

Janganlah takut ketika mati itu mendekat, Itu hanyalah keberangkatan menuju rumah yang terberkati ini

Ingatlah akan ampunan dan cinta Rabbmu
Bersyukurlah pada KaruniaNya dan datanglah tanpa takut.

Aku yang mengalami kematian dan kau pun begitu,Karena aku tahu kau dan aku adalah sama-sama jiwa yang datang dari Tuhannya

Badan badan yang berasal sama Baik atapun jahat, semua adalah milikNYA

Aku sampaikan pada kalian sekarang pesan yang menggembirakan
Semoga kedamaian dan kegembiraan Allah menjadi milikmu selamanya.

***

 

sungguh tenang ya? :’)