Kematian

Mengapa saya bersedih ketika ditinggal mati seseorang? mengapa saya tidak pernah bersedih ketika hati saya yang mati.

Orang seperti saya hanya menangisi ‘keuntungan’ yang ikut pergi bersama orang yang mati, saya hanya cemas dan sedih karena merasa rugi.

Padahal mestinya tiap hari saya bersedih dan meratap karena hati ini penuh dengan penyakit, atau mungkin malah sudah mati.

Bukankah hati adalah sesuatu yang membuat manusia istimewa, yang membedakan antara manusia dan hewan.
Jika hati saya mati dan tubuh masih hidup, lalu apa bedanya saya dengan hewan? Menjalani hidup hanya tentang; makan, bekerja, syahwat, tidur dan mengulangnya lagi.

Kabar yang Terkubur

Jika kau tak sengaja lewat jalan samping kuburku
sudilah mampir dik
Usaplah nisanku dan lihatlah betapa kamu adalah aku
Aku rindu belai jemarimu, maukah kau gali tanah yang menyesakkan ini
aku tak butuh karangan bunga dan air matamu yang sengaja kau teteskan di pembaringanku
Disini, seperti hati
Kadang sendiri kadang ramai sekali

Apa kamu sudah menerima pesan dari keluargaku
Aku ingin sekali kamu datang saat ku sakit kala itu
Padahal malaikat sudah baik sekali mengundur ajalku

Kalau saja disini semacam kantor, aku ingin cuti sehari atau selama mungkin
kan kutemani malammu yang tak berarti itu
Biar kuceritakan perihal kematian yang indah sedang kamu tidur berbantal pahaku;
Mati itu indah, Dik
tak seperti film dalam kepalamu
kematian hanyalah sebuah nama, justru inilah hakikat hidup
Semua pertanyaan hati telah terjawab
Misalnya saja pertanyaan tersimpan tentangmu, tentang Tuhan atau tentang diri sendiri

Mampirlah sekejap saja
Agar kamu mengerti bahwa kematian adalah ujung fikiranmu

Akhir-Nya

mungkin ketiadaanku seperti rumput yang tumbuh dengan sendirinya dikelilingi bunga-bunga anggun paling bersahaja tinggal menunggu musim sampai aku mati. ingin sekali aku jumpa sang penggembala biar kuletakkan arti hidup yang tanpa doa seperti bulir embun di punggungku hilang entah diteguk siapa Tuhan bila kata adalah doa aku tak bisa lagi merapalkannya aku sudah diujung menunggu […]

Sebab Hidup Adalah Kematian

memandang

Bebera hari yang lalu saya menulis sesuatu difacebook dan twitter
“saya akan mencoba sampai mati, bukan mencoba mati sebab tak sampai”
Heuhue kata-katanya sok bijak banget yah ? Heuhue maklum kalau cuman nulis sih mudah apalagi tinggal baca.
Nah, beberapa jam setelah tulisan itu sy buat ada sebuah akun ditwitter yg me-reply begini

“hidup adalah kematian dan kematian adalah hidup ? Rasa ibarat Surga dan Neraka, tanah suci yg berarti hati ? Blh bertanya sesuatu pak?”

Widdih, si @wapenk dipanggil pak??? Aneh bukan??? Heuhue tapi bukan tentang wapenk yg mendapat embel2 pak yg akan sy bahas kali ini, saya hanya akan mencoba menguraikan sesuatu dari tweet diatas menurut paham-kecil saya sendiri, paham-besar nya silahkan jenengan tambahi dg cara komentar dibawah, bisa juga inbox via fb (Wapenk Asluhu Wafa) / twitter (@wapenk) heuhue sambil promosi dikit lha ya 😀

HIDUP ADALAH KEMATIAN
Secara aqliyah yang dimaksud dengan hidup adalah sesuatu yang terus berkembang (namy), maka sebaliknya yg tidak berkembang berarti tidak hidup bin mati hehe.
Disini saya memiliki 2 pandangan :
1.hidup seseorang yang seiring bergulirnya waktu hanya begitu2 saja (tidak berkembang taatnya kepada Alloh) secara lahir maupun batin maka seseorang itu dalam kematian.
2. hidup kita didunia ini tak lain hanyalah untuk mencari jalan terbaik menuju kematian bukan?
Jadi -hidup adalah menuju kematian-

KEMATIAN ADALAH HIDUP
Tatarannya memang begitu, mungkin sudah banyak tau bahwa setelah kehidupan kita didunia ini masih ada kehidupan lagi, intinya saat jasad kita mati ruhnya tetap hidup. Dan kematian seseorang selepas didunia maka ia akan merasakan kehidupan lagi setelah kematian. Mbulet kan? Hahaha

RASA IBARAT SURGA & NERAKA
yang disebut rasa dalam diri manusia ialah rasa yang seperti sering kita gunakan untuk mencintai, merindu, merasakan bahagia, sedih. Atau kalau disingkat definisi rasa adalah Perasaan, bukan rasa yg sebangsa lahiriyah, bukan rasa asin, pedes, laper dkk.

Yang membuat kita merasa sebel itu rasa kita sendiri, pun yg membuat kita senang itu juga rasa kita sndiri, nah jika diri kita sebel/benci pada sesuatu inilah yg disebut neraka.
Sdangkan surga pada kaitan rasa ialah diri yg mampu mengendalikan rasa itu untuk tidak tergerus dilingkaran nafsu.

TANAH SUCI ADALAH HATI
Saya jd teringat lirik harmoni nya Padi, “kita terlahir bagai selembar kertas putih…”
dan saya sangat setuju, sebab dalam kitab fathul qorib -yg sy lupa dibab apa- juga di jelasan bahwa aslinya (hati) manusia it suci. [ih].
Tergantung bagaimana orang tua membimbingnya, dan bgaimana manusia itu mampu menjaga kesucian (hati) itu sendiri seiring beranjaknya hidup.
Kalo tidak dijaga ya hati itu akan tertutup oleh debu atau kotoran-kotoran, maka dalam islam pun juga di ajarkan bagaimana cara menyingkirkan kotoran2 itu agar hati kembali suci.

Awal akhir mohon maaf, jika ada kesalahan atau kekurangan mohon sangat kesudiannya tuk membenahi . Salam 🙂