Resiko Beribadah

Jadi santri itu rumit, berat dan sedikit cupu.
selain harus siap dimintai pertanggungjawaban akhirat, juga harus siap menghadapi cibiran orang yang mengatakan bahwa santri pekerjaannya tak menentu, urusan materi pastilah tertinggal. Meskipun kenyataannya begitu, santri tidak boleh pendek dalam berpikir.

Begini, Mahasiswa itu lebih berat juga lebih besar resikonya. Orang tua berani membiayai sekian juta demi anaknya agar mendapatkan pekerjaan yang pantas dan memiliki materi yang cukup. Dibalik semua itu, Mahasiswa lebih beresiko menjadi cibiran masyarakat apabila mereka hanya menjadi seorang pedagang atau jasa kurir.

Masalahnya, misal saja tujuan hidup ini adalah duniawi, maka pendidikan bukanlah taruhannya. Pun sebaliknya, karena tujuan hidup adalah akhirat, jenis pendidikan juga bukan penentu berhasilnya seseorang.
Maksud saya, semua orang pasti beresiko. Hanya saja yang lucu adalah kenapa manusia malah memilih yang beresiko? Kenapa tidak ambil aman saja.

Maling ayam itu juga berat, harus bangun malam untuk melakukan pekerjaannya dan sangat beresiko. Tahajud itu juga berat, harus bangun malam untuk mendapatkan pahalanya tapi tidak beresiko kan? Padahal tidak beresiko, kenapa kita tetap tidak melakukannya.

Haruskah Seperti Ini

“eh bro, tadi tarawih dimana? kok lama banget”
“saya tarawih di masjid sana, soalnya enak shalat disana deket sawah, anginnya sepoi-sepoi hehe. ya meski lama gak apalah ibadah kan gak kaya jaringan LTE yang wuzz”

dari percakapan kedua orang diatas, manakah menurut kita yang lebih baik? dulu saya kira yang baik adalah yang seperti penjelasan mas-mas yang kedua yaitu shalat tidak mencari cepet mak wuzz lalu kelar. memang begitu sudah baik, tapi ada yang kurang pas dengan alasan “shalat di Masjid sana anginnya sepoi-sepoi”

jujur saja saya sendiri masih seperti itu, ibadah saya selama ini masih memilah-milah. memilih yang lebih cepat, memilih yang sejuk, memilih yang ramai dll.
tidak hanya masalah pergi ke Masjid. lha wong tentang shaf shalat saja kadang masih memilih yang di pinggir sendiri, memilih yang deket kipas. contoh lain ketika tahlil atau dzikr berjamaah pasti memilih tempat yang nyaman yang ada sandarannya.

begitulah, urusan pendekatan sama Allah memang memiliki fase atau tingkatan sendiri. selalu ada yang lebih baik dari yang baik. kalau untuk orang awam atau fase terendah seperti saya ini pasti selalu mengandalkan alasan: yang penting ibadah. memang mau ibadah saja sudah baik, tapi ya harus ditingkatkan.

Astaghfirullah, menghadap Sang Pencipta masih perhitungan sedemikianya.
sebenarnya kita menyembah kenyamanan pada diri sendiri atau menyembah Yang menciptakan kenyamanan itu?.

Wapenk.wordpress.com