Kematian

Mengapa saya bersedih ketika ditinggal mati seseorang? mengapa saya tidak pernah bersedih ketika hati saya yang mati.

Orang seperti saya hanya menangisi ‘keuntungan’ yang ikut pergi bersama orang yang mati, saya hanya cemas dan sedih karena merasa rugi.

Padahal mestinya tiap hari saya bersedih dan meratap karena hati ini penuh dengan penyakit, atau mungkin malah sudah mati.

Bukankah hati adalah sesuatu yang membuat manusia istimewa, yang membedakan antara manusia dan hewan.
Jika hati saya mati dan tubuh masih hidup, lalu apa bedanya saya dengan hewan? Menjalani hidup hanya tentang; makan, bekerja, syahwat, tidur dan mengulangnya lagi.

Rahasia

Biar kucoba uraikan gelisahmu yang bagai siang ditinggal matahari
Kedatanganmu yang tiba-tiba antara tersedak sampai terdesak
Seperti induk burung yang kehilangan anak dari sangkarnya
Bersabarlah tabah

Bulir air mata
Adalah letupan hati yang tak kau mengerti
Disanalah pangkal cinta dan rindu sejati, karena bumi dan langit tak seagung hati
Kalau kau membuncah
Air matamu pasti tumpah

Rahasia dalam dadamu
Adalah semesta yang tak terukur tak tergambarkan
Tak seorang pun sanggup menjamah
Juga dirimu sendiri
Sebab disana Tuhan menitipkan
“aku yang tak tergantikan”

Hatimu dalam Lukisan Hatiku

Hatimu seperti bumi
Airmata menumbuhkan pohon-pohon disana
Tawamu adalah rembulan yang purnama
Lalu Pengetahuan menghembuskan angin darimana saja

Kulukis pemandangan itu
Di hatiku yang seperti kanvas
Warna-warni dan berbekas
Kubingkai dengan waktu yang tak berbatas

Tiap inspirasiku tergantung pada cuaca hatimu
Mulai mendung hingga pelangi
Jadi diriku tak pernah menentu dalam mencintai dan melukismu
Karena menggambarkan hatimu ke hatiku
Bukan keinginanku.

Seekor Elang yang terjebak

انت حرّ مما انت عنه ايس وعبد لما انت له طامع.

Kamu akan merdeka (tidak ketergantungan) dari sesuatu yang memang tak pernah kamu harapkan. dan kamu akan menjadi budaknya setiap perkara yang kamu inginkan.

Maksudnya, jika manusia sudah tidak lagi memiliki hasrat ambisi-ambisi untuk memiliki sesuatu, maka hidupnya akan bebas merdeka. Namun menjadi hukum yang berbalik, manusia akan menjadi budak untuk hal-hal yang selalu ada dalam benaknya.

Contoh: Seekor Elang yang terbang gagah melintasi langit tinggi, seseorang akan kesulitan untuk menangkapnya. Akan tetapi jika Elang itu melihat segumpal daging yang terpasang dalam perangkap, maka ia akan mendatanginya dan Elang itu bisa menjadi mainan untuk anak-anak kecil lantaran Elang tak mampu membendung ambisi-ambisinya.

Pernah ada seorang Santri kedatangan gurunya, ia hanya memiliki nasi putih saja, padahal Santri itu ingin sekali memuliakan sang guru lebih dari adanya. Saat santri itu ingin keluar rumah untuk mencari lauk pauk yang enak untuk sang guru tiba-tiba gurunya mencegah “kamu tidak usah kemana-mana, tetaplah disini makan nasi putih ini seadanya saja setelah itu akan kutunjukkan sesuatu padamu”.
setelah jamuan makan selesai sang guru pun mengajak santrinya itu untuk keluar menuju sebuah penjara yang penuh dengan para napi.
“Lihatlah mereka, kebanyakan yang menyebabkan mereka dipenjara sama seperti ketika kita tidak puas dengan nasi putih saja. Mereka ingin mencari lauk pauk dan minuman yang enak hingga segala hal cara dihalalkan”

Seandainya seluruh manusia sudah bisa menerima apa yang telah dikaruniakan padanya, mungkin pencurian atau korupsi akan surut dikit demi sedikit. Namun jangan keliru, menerima pemberian Allah tidak hanya berdiam diri dan melewati hari-hari hanya dengan menunggu. Sebagai hamba kita harus tetap berusaha dan berdoa, segala hasil yang telah kita usahakan musti disyukuri karena bagaimanapun itulah bagian kita.
memang sulit untuk diterapkan dalam kenyataan sehari-hari, kendati demikian marilah tetap berusaha menjadi makhluk yang husnudzann selalu berbaik sangka terhadap apa yang ditakdirkan Allah SWT.

Agar kita tidak menjadi budak bagi nafsu kita.

Beberapa Yang Aneh Padaku

Setelah hujan mampir siang tadi, matahari kembali berjalan menuju tempat tidurnya
Tak ada pelangi, tapi bekas cahayanya melukis kenangan di pelupuk mata
Sore ini, aku telah mengingkari janjiku sendiri
Sebab gerimis selalu memaksaku tuk mengadukan kangen pada siapapun.

Setelah pesan terakhirmu beberapa bulan yang lalu
aku makin hilang kendali, ada beberapa yang aneh; semua terlihat sepertimu.
Prasangkaku terlalu tinggi tentang isi hatimu yang tersembunyi itu, padahal belum tentu nadimu berdenyut senada dengan jantungku

Jika untuk mengetahui Tuhan adalah dengan sungguh-sungguh memahami diri sendiri, lalu bagaimana padaku yang telah luluh digantikanmu penuh?
Bila kamu mampu mengerti tentang dirimu sendiri, maka aku pun akan mengerti Tuhan.

Beberapa hari ini diriku berubah menjadi sangat religius, tiap malam kulakukan ritual aneh untuk sekedar menebak bagaimana rasamu padaku.
Aku juga telah belajar hitung-hitungan untuk menduga takdir Tuhan perihal jodoh. entah benar atau meleset tapi hatiku cukup yakin tentang itu, mungkin karena jawaban dari hitunganku membuahkan hasil yang baik.

Di musim penghujan seperti ini menurut orang-orang arif adalah salah satu waktu terkabulnya sebuah doa, kuharap kamu juga merapal namaku diantara pujianmu kepada Tuhan dan shalawat kepada Nabi. Begitulah menurut kepercayaan kita.

Sebenarnya sampai saat ini aku masih terbayang sebuah tembok besar yang kelak menghadang arakan hatiku menuju rumahmu. Tembok besar itu kukira adalah; kebodohan, jarak dan nasab. Semua itu masih menyelimutiku.
Namun aku akan berusaha merobohkannya dengan doa dan sebuah senyum dari bibirmu yang bertahan dalam benakku.