Kematian

Mengapa saya bersedih ketika ditinggal mati seseorang? mengapa saya tidak pernah bersedih ketika hati saya yang mati.

Orang seperti saya hanya menangisi ‘keuntungan’ yang ikut pergi bersama orang yang mati, saya hanya cemas dan sedih karena merasa rugi.

Padahal mestinya tiap hari saya bersedih dan meratap karena hati ini penuh dengan penyakit, atau mungkin malah sudah mati.

Bukankah hati adalah sesuatu yang membuat manusia istimewa, yang membedakan antara manusia dan hewan.
Jika hati saya mati dan tubuh masih hidup, lalu apa bedanya saya dengan hewan? Menjalani hidup hanya tentang; makan, bekerja, syahwat, tidur dan mengulangnya lagi.

Jalan Ma’rifat

Cahaya Pohon Ma'rifat

Bismillah…
Maka, saya memohon izin kepada Daeng AndiBombang, Mama Ajengan Muhammad Kahfi (alm), segenap mursyid serta sahabat2 salik Tarekat Haqmaliyah untuk sekedar menyebarkankan sekelumit makna dari Kitab Ma’rifatullah. Semoga ini memberi kemanfaatan bagi kita semua. Amin.

***

Makrifat kepada Allah dapat ditempuh dari dua jalan, yaitu dari bawah ke atas dan dari atas ke bawah. Yang dari bawah ke atas antara lain dengan menyantri di pondok pesantren, mengaji kitab Qur’an, serta tekun menjalani rukun yang lima perkara. Perihal seperti ini adalah jalan makrifatullah. Namun sayangnya, kebanyakan para penempuh jalur ini tidak sampai kepada tujuan karena tertahan di martabat asma. Terlanjur betah di kenikmatan tataran ‘papan petunjuk’. Padahal kalau berlanjut, akan tiba di tataran yang lebih mulia yaitu martabat dzat dan sifat-Nya. Sedangkan baru di martabat asma pun telah sedemikian nikmatnya.

Jalan yang dari atas ke bawah, ditempuh dengan mencukupkan terlebih dahulu dalil awwalu dinni ma’rifatullah. Caranya bukan hanya dengan menyantri di pondok pesantren saja, melainkan juga mesti disertai dengan usaha pengekangan diri. Harus mau tirakat mengiring ikhtiar mencari guru pembimbing yang mursyid. Sebab, tidak akan bisa paham jika tanpa guru. Maka, ke mana kita harus mengarahkan langkah? Tidak ada lain, mengarahlah ke tarekatnya wali. Sebab, itulah yang bisa memakrifatkan kita kepada sifat Allah yang disebut jauhar awwal atau hakikat muhammad. Ada jalurnya bagi kita semua. Para wali pun pun sampai sedemikiannya bertirakat adalah untuk membela umat Rasulullah supaya bisa kembali pulang kepada Allah ta’ala.

Oleh karena itu, marilah kita bersama2 mencari tarekat wali tadi. Sebab kalau tidak cepat2, maka kita tidak bisa pulang ke ‘negeri’ asal. Nyawa (ruhaniyah) kita kelak akan tertahan melayang2 atau merasuk kembali ke alam dunia, ke martabat benda yang kelak pun akan rusak. Tidak mampu mencukupkan dalil inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun; bermula dari-Nya, kembali kepada-Nya.

Barangkali saudara2 sekalian masih belum mengerti, agak2 tidak percaya juga, karena tidak (belum) mampu merasakan bahwa diri kita ini bermula dari Allah yang lantas Baca selebihnya »