Penjelasan

Benar katamu, aku binatang
Mencintai dengan tujuan
Hatiku rimba tuk tubuhmu
Tapi aku menyimpan maumu

Mestinya kamu segera kembali
Sedang aku menjadi sepi
Aku cemas, kamu tak mengerti
Tuk bahagia tak perlu dipaksa

Kalau kamu bertanya kenapa aku tega
Aku akan mengaum dan tertawa
Biar luka menuntunmu ke surga

Bahagia Tidak Lahir dari Kenangan

Saya masih bingung sama orang yang selalu mendewakan waktu yang telah lewat, katanya zaman sekarang beda sama dahulu. padahal kalau mau mikir, sebenarnya zaman sekarang ini adalah ‘zaman dahulu’ yang akan datang.

Andai kita kurang bahagia dengan kehidupan saat ini, perbandingannya bukan dengan kehidupan yang telah lewat. karena apapun yang sedang kita jalani saat ini kelak juga akan menjadi kenangan, oleh sebab itu kebahagiaan atau kebaikan tidak melalui proses matematis seperti itu.

Jika kita berhasil mengahafal angka satu maka di kehidupan berikutnya kita akan menghadapi angka dua, tiga, empat, lima dan seterusnya. saat kita berada pada waktu ‘menghafal angka dua’ secara tidak langsung kita akan mengungkit kenangan mudahnya menghafal angka satu yang berbentuk lurus. kita tidak boleh mengambil kesimpulan bahwa angka satu lebih baik karena mudah untuk dihafal, sebab suatu saat setelah kita berhasil hafal bentuk angka dua, kita juga akan mengungkit bahwa ternyata angka dua lebih baik dan mudah dihafal daripada angka tiga.

Memang seperti itulah tataran hidup, bertingkat-tingkat dan absolut.

“Yang paling mengagumkan imannya ialah orang-orang yang datang sesudah wafatku dan beriman kepadaku sedang mereka tidak melihatku dan mereka membenarkanku, mereka itulah saudara-saudaraku.” – Muhammad SAW.

Bahkan Nabi dalam Hadis di atas tidak mengunggulkan sesuatu yang kelak menjadi kenangan, akan tetapi beliau mengapresiasi terhadap orang yang dengan gagah menghadapi hidup seperti kita hari ini.

Kunanti

Aku pernah berkhayal suatu saat tubuhku terserang penyakit, sampai beberapa dokter dan tabib kebingungan memastikan jenis penyakit itu. kemudian dalam jangka waktu pendek, sikapku berubah aneh dan menakutkan.

Aku hanya mengulang-ulang hari dengan menatap cermin atau sesekali keluar malam berjalan mengitari desa dan meratap di depan rumah seseorang. jika pagi menjelang, aku akan bergegas kembali ke kamar dan menumpuk tulisan-tulisan.

Dari balik tirai, kudengarkan sanak keluarga dan tetangga berbincang perihal diriku atau rujukan Tabib ampuh. isak tangis Ibu selalu tak pernah ketinggalan dalam perbincangan semacam itu. sedang aku terus berdiri menghadap tembok dan menulis nama Ibu berkali-kali dengan jari telunjuk.

Ayah tiap hari semakin menua dengan kesibukannya menjual barang-barang rumah, dan aku tak juga mengerti mengapa bisa seperti ini. padahal tak ada yang perlu dicemaskan tentang kehidupan, tapi Ayah selalu diam saat menatapi mataku yang kosong.

Secara fisik tidak ada yang berubah dariku, hanya rambut yang memang sengaja kubiarkan memanjang, aku tak khawatir untuk mandi meskipun sehari hanya sekali, karena air tak berpengaruh apapun pada tubuhku.
Tiap hari, selalu ada segelas air putih yang amat bening di meja kamar, disampingnya ada bubur atau nasi-sayur kesukaanku. kata Ibu, tak masalah jika aku tidak mau makan, tapi aku harus minum, karena air itu sudah didoakan oleh Kyai.

Sampai pada suatu hari, ada yang aneh di bawah gelas bening berisi air doa-doa itu. disana kutemukan selembar kertas berisi surat yang ditulis oleh seseorang yang tiap malam rumahnya kupandangi.

“Kalau kau tak mampu memilikiku, kau harus memiliki dirimu sendiri”

Sejak saat itu, aku lepas dari tanda tanya dan kehidupan fana.

Double Keliru

Setan ini hebat banget, mampu membuat orang yang sedang sholat menjadi tiba-tiba jenius dan ingat hal-hal yang lupa.
kalau begitu, rasanya pengen sholat terus supaya saya jadi pintar, tapi lagi-lagi setan datang dengan godaan yang lain. kalau dalam 24 jam saya habiskan untuk sholat, nanti pekerjaan saya jadi terbengkalai. lalu buat apa pintar yang saya punya?

Dilema yang seperti ini hanya bagi orang-orang yang tidak berilmu seperti saya, maka jika anda termasuk orang yang berilmu alangkah baiknya jika anda hentikan membaca tulisan ini. karena hanya akan membuang-buang waktu dan usia anda.

Pernahkah kalian berfikir bahwa sholat kita ternyata kalah khusyuk dari doa dan amalan-amalan setelah sholat? kalau pernah, berarti kita sedang dalam keadaan “ghurur” atau tertipu. karena secara fikih, perkara wajib seperti sholat tidak bisa dikalahkan dengan perkara sunah macam doa atau wirid.
kalau begitu, apa baiknya kita tidak usah berdoa usai sholat? hal ini juga masih tipuan muslihat, karena berdoa usai sholat itu hukumnya sunah dan dianjurkan.
dan tingkatan tipu daya yang paling tinggi dalam pembahasan ini adalah, jika anda berpikir “kalau begitu tidak usah sholat dan berdoa”, fatal.
yang benar adalah, kita tetap sholat dan belajar khusyuk untuk tidak memikirkan apapun selain Allah, jangan terburu-buru dan jangan terlalu lama durasinya. setelah itu berdoalah juga dengan keadaan yang khusyuk.

Memang tiap perkara baik pasti tidak lepas dari godaan. ya kalau godaannya terlihat seperti wanita yang memakai rok mini di jalan-jalan mah tidak terlalu sulit, tinggal merem kelar perkara. yang bikin kacau itu kalau godaannya tipis-tipis terselubung seperti contoh diatas, bisa menggiring ke ranah kufur.
jadi kesimpulannya adalah kita mesti memperbanyak istighfar meskipun belum tentu kita melakukan kesalahan. karena manusia selalu berkemungkinan salah dan tidak menyadarinya.

Metafor Cinta

Ketika kita mencintai apapun itu yang selain Allah, maka perkara itu pasti memiliki jiplakan lain. alhasil kita sebenarnya tidak mencintai dengan hakiki, cinta kita pada selain Allah hanyalah majas.

Hal-hal yang menyulut hati kita untuk mencinta hanyalah sesuatu yang sementara, kita hanya mengaku cinta pada seseorang karena orang tersebut memiliki sesuatu yang dapat mematik hasrat kita untuk berkobar, suatu saat ketika pematik itu hilang atau rusak, maka kobaran api dalam hati kita akan meredup dan hanya menyisakan asap.

kita akan terus mencari pengganti sesuatu yang lain yang dapat membakar dan menghangatkan hasrat, karena manusia sebenarnya adalah kotak kopong dan selalu menggigil dalam kesendirian.