Resep Agar Tak Mati Karena Kangen

Kupetik sebuah daun tua yang enggan lepas dari tangkainya
Saat kangen
Aku tak mengerti tak juga peduli apapun kecuali dia
itulah sebab tubuhku kerempeng dan ibu selalu marah

Jariku mencalar lembut dan menulis namanya pada daun-daun
Meski mata tak bisa mengetahui bekasnya
Tapi hatiku dan pasukan ajaibnya bersorak riang

Kurebus daun tua bertulis namanya
Dan menyeduhnya usai kutulis sebaris puisi
Hidup orang-orang sesekali harus meniruku
Membohongi diri
Menyajikan hangatnya harapan
Melupakan segala ketidakmungkinan
Agar kangen tak rubah menjadi racun.

Iklan

Hatimu dalam Lukisan Hatiku

Hatimu seperti bumi
Airmata menumbuhkan pohon-pohon disana
Tawamu adalah rembulan yang purnama
Lalu Pengetahuan menghembuskan angin darimana saja

Kulukis pemandangan itu
Di hatiku yang seperti kanvas
Warna-warni dan berbekas
Kubingkai dengan waktu yang tak berbatas

Tiap inspirasiku tergantung pada cuaca hatimu
Mulai mendung hingga pelangi
Jadi diriku tak pernah menentu dalam mencintai dan melukismu
Karena menggambarkan hatimu ke hatiku
Bukan keinginanku.

Aku Akan Berhenti

Sudah terpikir panjang hingga menembus jantungku
Aku akan berhenti dan memulai hal baru
Bukan karena hatiku telah diketuk lagi
Atau karena hidupku yang terlalu sepi

Sudah kubilang berulangkali, aku akan berhenti
Bukan sebab kulit dipipimu mulai melipat-lipat
Atau sebab menanggungmu semakin berat

Sudah sekian jarak kita lewati
Namun aku memilih berhenti
Jika sampai hal itu terjadi
Bersama orang lain kau pergi
Sedang padaku senyummu tetap berarti
Aku akan berhenti.
 

 

Kekuatan Bertahan

Salah satu kekuatan yang tidak bisa diukur adalah bertahan, kita tidak bisa membandingkannya, karena bertahan berarti membahas diri sendiri.

Saking tingginya nilai pertahanan seseorang akan dirinya sendiri, nabi pun menyampaikan bahwa menahan amarah itu lebih baik bagi seseorang daripada melepaskannya yang bisa merugikan orang lain.

Selain menahan emosi, ternyata menahan cinta termasuk ritual sakral yang bernilai tinggi, banyak kisah yang mengabarkan bahwa seseorang bisa masuk surga karena ia tak sempat menyampaikan rasa cintanya. Bahkan menurut sebagian pendapat ulama, orang yang mati dalam keadaan memendam cinta bisa dikatakan syahid akhirat. Dikatakan syahid karena dia jihad melawan nafsu cinta yang sangat lembut.

Jika dikaitkan dengan ilmu tasawwuf, seperti yang pernah sampaikan disini, bahwa tidak mempertahankan atau mengumbar keajaiban batin yang telah diberikan Allah itu sama halnya dengan mengumbar aurat. Jadi memang begitu penting bagi kita untuk bertahan. Misalnya, kita menahan untuk tidak ikut campur urusan orang lain. Karena biasanya kita sering nimbrung terhadap hal-hal yang sebenarnya tanpa ada kita pun hal itu bisa selesai dan berjalan lancar. Kita sering sok tau dan sombong melepaskan pengertian-pengertian yang kita miliki.

Intinya, kalau kita sanggup menahan rasa, ya kita tahan saja. Sebab untuk melepaskannya kita masih belum memiliki tali agar rasa itu tetap terkendali.

Senja di Kadiri

Kala itu, usai shalat maghrib saya sengaja duduk-duduk di serambi sambil mengamati kendaraan yang sibuk menuruti tuannya masing-masing. selain itu kaki ini juga ingin dimanjakan sebentar setelah beberapa jam nangkring diatas mesin.

karena saya tipe penikmat perjalanan, saya sendiri saja waktu itu. namun saya akhirnya akrab dengan seseorang yang baru saja saya kenal di musholla itu. kami pun berbincang tipis tapi cukup berbobot. 
“dari mana mas?” ia membuka

“eh emm dari jawa tengah” jawabku yang setengah kaget

“sendirian?” 

iya sendiri, kenapa emangnya ha? mau ngledekin ciye jomblo ciye, gitu? batinku

“hehe geh pak” asal ku iyakan saja

“sendiri itu kadang ada enaknya ada enggaknya mas, tapi kalau udah terbiasa ya tenang-tenang aja sih”

“lho bisa gitu ya pak?” aku pun mulai tertarik, karena pengetahuan yang begini jarang kutemui di buku-kitab. setelah lumayan akrab, perbincangan kami pun tembus ke ranah yang membuatku ingin nikah eh tidur ding, mumet soalnya mencerna omongan bapak satu ini.

Beliau pun berkisah, bahwa dulu waktu seumuran saya. bapak ini ya hidup seperti sewajarnya orang, sekolah, bekerja, ngopi dan sebagainya, sekarang hidupnya menjadi pelana mengikuti kemana kaki melangkah. 

Patah hati, itulah yang menjadi awal mula beliau berpindah haluan menikmati kehidupannya sendiri dan meninggalkan kampung halaman kira-kira sudah 23 tahun, sesekali memang kadang menemui keluarganya tapi tak pernah lebih 3 hari. ia benar-benar sendiri, secara fisik penampilannya berantakan tapi tidak bau dan tidak menjemukan karena meski sudah terlihat tua wajahnya tetap bersih, husnudzon saya beliau ini sering wudlu.

Beliau mengingat kembali bagaimana hancurnya hati saat dikhianati oleh pacarnya. kata orang-orang bapak ini sudah gila karena cinta, beliau sering dicaci-maki, dibodoh-bodohkan temannya “wanita gak cuma dia, Dul”  nama aslinya Abdul Muhib.
Masyarakat bahkan keluarganya sendiri salah persepsi, itulah yang membulatkan tekat bapak ini untuk angkat kaki, karena beliau tak ingin mempermalukan keluarga. 

“saya dulu gak bisa jelasin ke orang-orang mas, sudah terlanjur ya tak nikmati wae” sehari setelah ditinggal pacarnya akad nikah, hati Abdul Muhib muda itu seperti terbuka dan memandang sebuah pengertian yang aneh. beliau berfikir lha wong manusia saja ketika dihianati, ditinggal pergi dan ditinggal bahagia bersama orang lain mengakibatkan kecewa yang begitu besarnya, apalagi Tuhan? secara rasional, kita ini kan tidak menciptakan, tidak bisa memberi apa-apa pada pasangan tapi kok sakit hati saat dia pergi, kita selalu menuntut imbal balik seakan-akan kita telah berkorban dan berjasa besar pada kekasih, padahal tidak demikian.

menurut beliau, kalau manusia tidak seharusnya seperti itu, karena sejatinya tidak memiliki apa-apa, dan hal itulah yang terus memutar pikiran pak Muhib untuk sendiri karena sebuah alasan beliau tidak ingin membuat Allah kecewa dan pergi menjauhi-Nya. maka benar adanya bahwa musyrik (menyekutukan) adalah dosa terbesar yang tak bisa diampuni.

saya pun hanya menyeringai sambil teringat bayangan mantan yang sekarang sudah bahagia bersama suaminya heuhue.