Double Keliru

Setan ini hebat banget, mampu membuat orang yang sedang sholat menjadi tiba-tiba jenius dan ingat hal-hal yang lupa.
kalau begitu, rasanya pengen sholat terus supaya saya jadi pintar, tapi lagi-lagi setan datang dengan godaan yang lain. kalau dalam 24 jam saya habiskan untuk sholat, nanti pekerjaan saya jadi terbengkalai. lalu buat apa pintar yang saya punya?

Dilema yang seperti ini hanya bagi orang-orang yang tidak berilmu seperti saya, maka jika anda termasuk orang yang berilmu alangkah baiknya jika anda hentikan membaca tulisan ini. karena hanya akan membuang-buang waktu dan usia anda.

Pernahkah kalian berfikir bahwa sholat kita ternyata kalah khusyuk dari doa dan amalan-amalan setelah sholat? kalau pernah, berarti kita sedang dalam keadaan “ghurur” atau tertipu. karena secara fikih, perkara wajib seperti sholat tidak bisa dikalahkan dengan perkara sunah macam doa atau wirid.
kalau begitu, apa baiknya kita tidak usah berdoa usai sholat? hal ini juga masih tipuan muslihat, karena berdoa usai sholat itu hukumnya sunah dan dianjurkan.
dan tingkatan tipu daya yang paling tinggi dalam pembahasan ini adalah, jika anda berpikir “kalau begitu tidak usah sholat dan berdoa”, fatal.
yang benar adalah, kita tetap sholat dan belajar khusyuk untuk tidak memikirkan apapun selain Allah, jangan terburu-buru dan jangan terlalu lama durasinya. setelah itu berdoalah juga dengan keadaan yang khusyuk.

Memang tiap perkara baik pasti tidak lepas dari godaan. ya kalau godaannya terlihat seperti wanita yang memakai rok mini di jalan-jalan mah tidak terlalu sulit, tinggal merem kelar perkara. yang bikin kacau itu kalau godaannya tipis-tipis terselubung seperti contoh diatas, bisa menggiring ke ranah kufur.
jadi kesimpulannya adalah kita mesti memperbanyak istighfar meskipun belum tentu kita melakukan kesalahan. karena manusia selalu berkemungkinan salah dan tidak menyadarinya.

Iklan

Metafor Cinta

Ketika kita mencintai apapun itu yang selain Allah, maka perkara itu pasti memiliki jiplakan lain. alhasil kita sebenarnya tidak mencintai dengan hakiki, cinta kita pada selain Allah hanyalah majas.

Hal-hal yang menyulut hati kita untuk mencinta hanyalah sesuatu yang sementara, kita hanya mengaku cinta pada seseorang karena orang tersebut memiliki sesuatu yang dapat mematik hasrat kita untuk berkobar, suatu saat ketika pematik itu hilang atau rusak, maka kobaran api dalam hati kita akan meredup dan hanya menyisakan asap.

kita akan terus mencari pengganti sesuatu yang lain yang dapat membakar dan menghangatkan hasrat, karena manusia sebenarnya adalah kotak kopong dan selalu menggigil dalam kesendirian.

Perayaan

Sembilan belas tahun setelah kelahiranmu
tentang renyut jantungku
sebagai tempat perayaan ulang tahun berikutnya
haruskah kuyakini itu
saat aku tak berkeinginan
dengan siapa pergi ke pelaminan

Dua puluh satu tahun setelah hari kelahiranmu
kau merayakan pesta pernikahan dan ulang tahun secara bersamaan
sedang aku merayakan sesal dalam-dalam
kucoba yakinkan
hidup tidak sepi meski tanpa pasangan

Tiga puluh tahun setelah hari kelahiranmu
kau mulai merayakan kelahiran anak kedua
sementara aku tak lagi merayakan apapun
semakin ku yakin
kehidupan hanya mengulang-ulang hari kelahiran yang menyakitkan

Tiga puluh dua tahun setelah hari kelahiranmu
kau berkabung menangisi perpisahan, meratapi kesendirian
namun kau tetap merayakan ulang tahun bersamaku dan anak-anak kita
aku benar-benar yakin
pernikahan hanya menunggu perayaan-perayaan

Perasaan Matahari sebelum tenggelam

Bila kau tak mencumbu, rindu hanya menganakkan luka tak terjeda
Merangkaki pembuluh darah sampai menggumpal di hati
Hati bukan daging di dada kiri, lebih dari itu

Indra tubuh adalah pintu-pintu, semua kan menutup diujung hidup
Hanya hati, gapura yang tak mungkin lapuk
Sayangnya kau pergi mengoroki serpihan yang tak terbawa mati

Usia tak pernah khianat pada janjinya, menemani sebentar lalu pudar

Apakah yang lebih menyesakkan daripada penyesalan?
Melihatmu tak melihatku.

Keruh

Setidaknya, sebagian orang pernah masuk pada ruang yang tak ia kenali dan sulit untuk diceritakan.
Mereka hanya sanggup mememeluk lutut sendiri sambil menatap langit, menunggu cahaya menerobos dan menggambarkan keadaan.
Sebagian lagi, menunduk tanpa harapan, ditimang oleh keraguan.

Ada kebingungan yang menelusupi dadaku, perihal kedatangan selalu berujung kepergian.
Bagaimana seseorang dapat memastikan kebenaran pilihannya? Mencintai tanpa memiliki ataukah memiliki tapi tidak mencintai.