Cahaya Bukanlah Milik Kita

103505_cahaya-matahari-senja_663_382

Pada suatu ketika semua anak Adam akan dianugerahi oleh Allah dengan sifat “khusus/istimewa”, yang menyebabkan seseorang akan tertutup sifat ke-manusia-annya dan digantikan sementara dengan sifat Allah yang Istimewa itu.

Keistimewaan atau kehebatan yang ada pada manusia itu tidaklah bersifat abadi, sebab suatu saat Allah akan mengambilnya kembali. tak ubahnya seperti cahaya matahari yang menerangi bumi, pada hakikatnya cahaya tersebut bukanlah  milik bumi, karena nantinya sinar yang menerangi bumi itu akan hilang karena kembali pada Sang Pemilik, maka seluruh jagat raya kembali pada sifat aslinya yaitu sebuah “kegelapan” yang menjadi kata lain dari sifat “kebodohan manusia”. sebab cahaya itu bukanlah berasal dari bumi dan bukan pula untuknya, hanya saja cahaya matahari itu memang dikehendaki untuk sementara melintas menerangi bumi.

sifat ke-manusia-an diibaratkan dengan sebuah keadaan gelap. gelap adalah sifat anak cucu Adam yang selamanya tidak kan pernah bisa terlepas. sedangkan cahaya itu ibarat sifat ke-khusus-an milik Allah yang tidak mungkin lenyap adanya, cahaya akan melintasi bumi (manusia) dan suatu nanti akan kembali pada Allah, sehingga manusia pada tetap berada pada hakikatnya sendiri yaitu kebodohan yang diserupakan dengan gelap.

mengapa Allah SWT berbuat demikian? karena seperti ungkapan Ulama-ulama Sufi “bila Allah menghendaki seseorang untuk dekat pada-Nya, maka Allah akan menutupi keburukan manusia itu dengan sifat-Nya yang agung nan mulia”

Wallahu A’lam

Para Pemula Penempuh Tasawwuf

Sufi adalah istilah yang lebih membumi untuk seseorang yang menganut atau mendalami aliran tasawwuf. Sekelompok dari mereka memang tidak terlalu menampakkan diri karena memang kebanyakan amaliyah dari tasawwuf adalah perkara hati.

Banyak yang terkelabui dengan jalan ini, kecuali sebagian yang telah mendapat penjagaan dari Allah SWT. Yakni keserupaan pada Sufi yang benar-benar tulus menuju Sang Pencipta, keserupaannya kadang berupa gerak dzahir yang tampak dalam pelbagai keadaan, seperti dalam hal pendengaran (mendengarkan lagu-lagu tertentu), tarian-tarian, dzikir, shalat, duduk, berjalan, berpakaian, gaya dalam hal merundukkan kepala, seperti orang yang sedang tafakkur, mengambil napas dalam-dalam seakan sedang hanyut dalam arus ketuhanan dan lain sebagainya yang menurut mereka perbuatan seperti itu sudah baik karena sudah sedikit menyerupai penempuh jalan menuju Allah. Padahal dalam hati masih banyak hijab atau penghalang berupa ghurur (muslihat).

Mendekatkan diri pada Sang Pencipta tidak semudah itu, yang hanya dengan memperbanyak dzikir misalnya, bergaya dan bergerak seperti orang-orang Sufi sejati, tapi mereka belum pernah melelahkan diri sebagai salik dalam bersungguh-sungguh mengendalikan jiwa dan memerangi hawa nafsu, riyadlah melakukan latihan atau tirakat, pengawasan terus menerus terhadap hati, serta upaya pensucian lahir dan batin dari segala perbuatan dosa, yang nyata maupun yang tersembunyi. Sedangkan hal-hal semacam itu adalah fase setiap orang yang menempuh jalan tasawwuf.
Bahkan seandainya mereka telah melalui fase atau tataran diatas, mereka belum berhak menganggap dirinya termasuk Sufi. Karena perkara tasawwuf atau pendekatan kepada Allah itu selalu ada yang lebih baik dari yang baik. Selain itu gelar “Sufi” juga bukanlah apa-apa, ia hanya sebuah istilah untuk memudahkan pemahaman manusia saja.

Biasanya yang menjadi penghalang mulanya adalah syubhat yaitu perkara samar yang tak diketahui antara kebaikan dan keburukannya, mereka masih menjadikan balasan ibadah adalah sebuah tujuan manusia, padahal hakikatnya hanya Allah-lah akhir dari semuanya. Seperti beranggapan jika meninggalkan maksiat maka balasannya surga, jika sedekah sekian maka balasannya berkali-kali lipat dan lain sebagainya.

Maka, mari kita bersama-sama memperbaiki diri dari segala ghurur yang pasti selalu menyertai hati untuk mendekatkan diri pada Allah, karena sekali lagi masih ada perkara baik yang lebih baik dan semoga kita diberi petunjuk agar tidak terkelabui.

Beginilah

image

Maafkan atas segala sikapku
Aku hanya berusaha terus mencintaimu dengan segala kekurangan
Setiap saat aku pun berusaha membahagiakanmu
Mencoba untuk tak melukaimu
Namun segalanya keliru, aku tetap belum mampu menggantikan mereka yang pernah membuatmu mekar.
Maaf, sebenarnya aku hanya berusaha ini adalah jatuh cintaku yang terakhir kali.

Kediri

Sampai Jumpa

Sampai Jumpa

 

Kini kita telah menjadi masing-masing

Kau pergi membawa airmata

Aku menjauh membawa duka

 

Ini sajak terakhir kita

Yang sungguh aku kehabisan kata

Mungkin juga kau habis tinta

 

Sampai jumpa…

Entah dimana

 

Tuhanlah lebih-lebih memahami cinta

 Aku kamu hanya sebatas rasa

Tangis kala tak bersama

 

Sampai jumpa…

Di Pelaminan