Keseimbangan

Ada beberapa orang yang tidak ingin dipandang baik, sehingga ia memburamkan dirinya seolah-olah berada diantara kebaikan dan keburukan, netral.

Karena memang yang ia ketahui, beberapa kebaikan justru bisa dicapai jika seimbang dengan keburukan. Maksudnya manusia tidak bisa terisi penuh 100% poin positif, ia harus membagi angka tersebut dengan beberapa keadaan yang lain. Ingat bukan? Bahwa tiap mata air harus ada comberannya.

Kehidupan sehari-hari membawa kita belajar hal banyak, diantaranya manusia akan lebih bahagia jika ia dipuji dan ia akan sedih saat dicaci. Tidak ada yang salah dengan kebiasaan seperti itu, hukum alam.

Namun tidak semua hukum alam bisa begitu saja kita telan, kita perlu mempelajarinya agar perjalanan ini nyaman sampai tujuan.

Andai kita dalam keadaan dicaci oleh seorang pencaci, apakah kita berhak untuk membencinya?
lalu jika kita sedang disanjung oleh seorang penyanjung, apakah kita harus selalu berusaha tampil baik dihadapannya?

Tentu jawaban keduanya adalah, tidak.

Sebab kita tahu bahwa beberapa manusia senang melakukan dosa besar melebihi pencaci maki yang tidak melakukan dosa besar. Lalu dari sudut pandang mana kita harus membenci seseorang yang hanya mengeluarkan kata-kata pahit untuk kita padahal bisa saja kata-kata pahit yang keluar dari pencaci itu memang realita ada di tubuh kita.
perkara apa yang bisa membenarkanmu untuk membenci orang tersebut?

Dan perkara apa yang memperkuat keyakinamu untuk selalu tampil sempurna dihadapan orang yang memujimu? Padahal bisa saja orang yang memujimu hari ini adalah orang yang sedang mencaci orang lain dan atau suatu saat nanti akan menjatuhkanmu?

Ini bukan masalah tentang “orang yang berlaku baik pada kita harus kita perlakukan baik kembali, dan orang yang berlaku buruk terhadap kita harus kita perlakukan buruk untun membalasnya”

Jika rumusnya selalu demikian, maka beberapa orang akan kesulitan mencapai derjat ikhlas. Bagaimana tidak, karena ia akan terus beranggapan bahwa saat ia melakukan kebaikan terhadap orang lain maka ia berharap suatu saat akan mendapat balasan kebaikan.
dan orang yang berlaku buruk akan sulit berbenah diri karena ia selalu berprasangka buruk terhadap Allah SWT dan tak mempercayai hidayah.

Wallahu a’lamu.

Kematian

Mengapa saya bersedih ketika ditinggal mati seseorang? mengapa saya tidak pernah bersedih ketika hati saya yang mati.

Orang seperti saya hanya menangisi ‘keuntungan’ yang ikut pergi bersama orang yang mati, saya hanya cemas dan sedih karena merasa rugi.

Padahal mestinya tiap hari saya bersedih dan meratap karena hati ini penuh dengan penyakit, atau mungkin malah sudah mati.

Bukankah hati adalah sesuatu yang membuat manusia istimewa, yang membedakan antara manusia dan hewan.
Jika hati saya mati dan tubuh masih hidup, lalu apa bedanya saya dengan hewan? Menjalani hidup hanya tentang; makan, bekerja, syahwat, tidur dan mengulangnya lagi.

Resiko Beribadah

Jadi santri itu rumit, berat dan sedikit cupu.
selain harus siap dimintai pertanggungjawaban akhirat, juga harus siap menghadapi cibiran orang yang mengatakan bahwa santri pekerjaannya tak menentu, urusan materi pastilah tertinggal. Meskipun kenyataannya begitu, santri tidak boleh pendek dalam berpikir.

Begini, Mahasiswa itu lebih berat juga lebih besar resikonya. Orang tua berani membiayai sekian juta demi anaknya agar mendapatkan pekerjaan yang pantas dan memiliki materi yang cukup. Dibalik semua itu, Mahasiswa lebih beresiko menjadi cibiran masyarakat apabila mereka hanya menjadi seorang pedagang atau jasa kurir.

Masalahnya, misal saja tujuan hidup ini adalah duniawi, maka pendidikan bukanlah taruhannya. Pun sebaliknya, karena tujuan hidup adalah akhirat, jenis pendidikan juga bukan penentu berhasilnya seseorang.
Maksud saya, semua orang pasti beresiko. Hanya saja yang lucu adalah kenapa manusia malah memilih yang beresiko? Kenapa tidak ambil aman saja.

Maling ayam itu juga berat, harus bangun malam untuk melakukan pekerjaannya dan sangat beresiko. Tahajud itu juga berat, harus bangun malam untuk mendapatkan pahalanya tapi tidak beresiko kan? Padahal tidak beresiko, kenapa kita tetap tidak melakukannya.

Double Keliru

Setan ini hebat banget, mampu membuat orang yang sedang sholat menjadi tiba-tiba jenius dan ingat hal-hal yang lupa.
kalau begitu, rasanya pengen sholat terus supaya saya jadi pintar, tapi lagi-lagi setan datang dengan godaan yang lain. kalau dalam 24 jam saya habiskan untuk sholat, nanti pekerjaan saya jadi terbengkalai. lalu buat apa pintar yang saya punya?

Dilema yang seperti ini hanya bagi orang-orang yang tidak berilmu seperti saya, maka jika anda termasuk orang yang berilmu alangkah baiknya jika anda hentikan membaca tulisan ini. karena hanya akan membuang-buang waktu dan usia anda.

Pernahkah kalian berfikir bahwa sholat kita ternyata kalah khusyuk dari doa dan amalan-amalan setelah sholat? kalau pernah, berarti kita sedang dalam keadaan “ghurur” atau tertipu. karena secara fikih, perkara wajib seperti sholat tidak bisa dikalahkan dengan perkara sunah macam doa atau wirid.
kalau begitu, apa baiknya kita tidak usah berdoa usai sholat? hal ini juga masih tipuan muslihat, karena berdoa usai sholat itu hukumnya sunah dan dianjurkan.
dan tingkatan tipu daya yang paling tinggi dalam pembahasan ini adalah, jika anda berpikir “kalau begitu tidak usah sholat dan berdoa”, fatal.
yang benar adalah, kita tetap sholat dan belajar khusyuk untuk tidak memikirkan apapun selain Allah, jangan terburu-buru dan jangan terlalu lama durasinya. setelah itu berdoalah juga dengan keadaan yang khusyuk.

Memang tiap perkara baik pasti tidak lepas dari godaan. ya kalau godaannya terlihat seperti wanita yang memakai rok mini di jalan-jalan mah tidak terlalu sulit, tinggal merem kelar perkara. yang bikin kacau itu kalau godaannya tipis-tipis terselubung seperti contoh diatas, bisa menggiring ke ranah kufur.
jadi kesimpulannya adalah kita mesti memperbanyak istighfar meskipun belum tentu kita melakukan kesalahan. karena manusia selalu berkemungkinan salah dan tidak menyadarinya.

Metafor Cinta

Ketika kita mencintai apapun itu yang selain Allah, maka perkara itu pasti memiliki jiplakan lain. alhasil kita sebenarnya tidak mencintai dengan hakiki, cinta kita pada selain Allah hanyalah majas.

Hal-hal yang menyulut hati kita untuk mencinta hanyalah sesuatu yang sementara, kita hanya mengaku cinta pada seseorang karena orang tersebut memiliki sesuatu yang dapat mematik hasrat kita untuk berkobar, suatu saat ketika pematik itu hilang atau rusak, maka kobaran api dalam hati kita akan meredup dan hanya menyisakan asap.

kita akan terus mencari pengganti sesuatu yang lain yang dapat membakar dan menghangatkan hasrat, karena manusia sebenarnya adalah kotak kopong dan selalu menggigil dalam kesendirian.