Orbit Manusia

Manusia tidak diciptakan dengan main-main, ia ditempatkan pada dunia yang penuh permainan, tujuan hakiki pengadaan manusia bukanlah untuk bermain. Arghhh… Mbuh!.

Kupaksakan kepala melongok pada jam yang menempel tinggi di dinding kamar, tidak terlihat jarum pendek mengarah ke angka berapa, hujan disini teramat deras sehingga petugas listrik mungkin harus memadamkan daya untuk menghindari sesuatu yang merepotkan. Yang jelas suasana diluar sana bising sekali oleh gemercik air dan sambaran petir, waktu isya’ pun telah berlalu. Namun tak ku ketahui telah berapa lama aku berbicara dengan diriku sendiri.

Beberapa orang menilaiku sebagai pelamun kelas kakap, sebagiannya lagi menilaiku sebagai orang yang cerewet. Maka kalau dihitung, aku adalah orang yang mangmeng alias setengah-setengah. Terserahlah, karena setiap penilaian manusia terhadap diri kita adalah angka-angka yang tampak fisik. Padahal hakikat diri adalah bilangan yang tak bisa dihitung atau diukur menggunakan semesta pun.
Karena itu, saya senada dengan seorang Alim yang mengatakan bahwa selama ini kita tidak berbicara pada siapapun, kita sebenarnya selalu membicarakan diri sendiri.

Setiap manusia memang terlahir fitrah, begitu kira-kira menurut ajaran yang saya yakini. Namun yang terus beruntun menjadi pertanyaan adalah perihal kehendak yang sepertinya terlalu sakral untuk saya katakan pada sembarang orang. Intinya ketika saya berputar-putar dan mumet memaknai hidup ini pasti akan ada pengertian lain yang bisa membuat saya tersenyum.
Begini gambarannya, menurut pemahaman lemah saya, apapun yang berputar-putar itu berarti mengelilingi, dan jika kita telah berputar; pada diri sendiri misalnya. pasti kita telah membuat garis orbit. Dan yang jarang kita sadari atau mungkin malah tidak tahu, sebenarnya kita telah mengelilingi sebuah titik atau poros.

Titik atau poros setiap kehidupan yang berputar alias mbulet adalah Allah SWT. Inilah yang jarang saya sadari. Oleh sebab itu orbit kehidupan manusia memang bertingkat-tingkat, sesuai dengan kembuletan hidupnya.
Manusia yang sering berputar dengan urusan duniawinya adalah orbit terjauh dari titik, sedangkan manusia yang dekat dengan poros Allah adalah manusia yang terus muroqobah berputar tentang diri sendiri agar menjadi lebih baik. Bahkan tingkatan ini bisa lebih dekat lagi dengan Sang Poros jika manusia mau istiqamah berusaha, seperti yang telah dialami kaum Sufi atau Ulama-ulama.

Kemudian saya tersenyum, mungkin orbit diatas adalah lukisan buruk saya tentang hadis man ‘arafa nafsahu, faqod arofa robbahu (barangsiapa mengenali dirinya, pasti ia mengenal Tuhannya).

Iklan

Senja di Kadiri

Kala itu, usai shalat maghrib saya sengaja duduk-duduk di serambi sambil mengamati kendaraan yang sibuk menuruti tuannya masing-masing. selain itu kaki ini juga ingin dimanjakan sebentar setelah beberapa jam nangkring diatas mesin.

karena saya tipe penikmat perjalanan, saya sendiri saja waktu itu. namun saya akhirnya akrab dengan seseorang yang baru saja saya kenal di musholla itu. kami pun berbincang tipis tapi cukup berbobot. 
“dari mana mas?” ia membuka

“eh emm dari jawa tengah” jawabku yang setengah kaget

“sendirian?” 

iya sendiri, kenapa emangnya ha? mau ngledekin ciye jomblo ciye, gitu? batinku

“hehe geh pak” asal ku iyakan saja

“sendiri itu kadang ada enaknya ada enggaknya mas, tapi kalau udah terbiasa ya tenang-tenang aja sih”

“lho bisa gitu ya pak?” aku pun mulai tertarik, karena pengetahuan yang begini jarang kutemui di buku-kitab. setelah lumayan akrab, perbincangan kami pun tembus ke ranah yang membuatku ingin nikah eh tidur ding, mumet soalnya mencerna omongan bapak satu ini.

Beliau pun berkisah, bahwa dulu waktu seumuran saya. bapak ini ya hidup seperti sewajarnya orang, sekolah, bekerja, ngopi dan sebagainya, sekarang hidupnya menjadi pelana mengikuti kemana kaki melangkah. 

Patah hati, itulah yang menjadi awal mula beliau berpindah haluan menikmati kehidupannya sendiri dan meninggalkan kampung halaman kira-kira sudah 23 tahun, sesekali memang kadang menemui keluarganya tapi tak pernah lebih 3 hari. ia benar-benar sendiri, secara fisik penampilannya berantakan tapi tidak bau dan tidak menjemukan karena meski sudah terlihat tua wajahnya tetap bersih, husnudzon saya beliau ini sering wudlu.

Beliau mengingat kembali bagaimana hancurnya hati saat dikhianati oleh pacarnya. kata orang-orang bapak ini sudah gila karena cinta, beliau sering dicaci-maki, dibodoh-bodohkan temannya “wanita gak cuma dia, Dul”  nama aslinya Abdul Muhib.
Masyarakat bahkan keluarganya sendiri salah persepsi, itulah yang membulatkan tekat bapak ini untuk angkat kaki, karena beliau tak ingin mempermalukan keluarga. 

“saya dulu gak bisa jelasin ke orang-orang mas, sudah terlanjur ya tak nikmati wae” sehari setelah ditinggal pacarnya akad nikah, hati Abdul Muhib muda itu seperti terbuka dan memandang sebuah pengertian yang aneh. beliau berfikir lha wong manusia saja ketika dihianati, ditinggal pergi dan ditinggal bahagia bersama orang lain mengakibatkan kecewa yang begitu besarnya, apalagi Tuhan? secara rasional, kita ini kan tidak menciptakan, tidak bisa memberi apa-apa pada pasangan tapi kok sakit hati saat dia pergi, kita selalu menuntut imbal balik seakan-akan kita telah berkorban dan berjasa besar pada kekasih, padahal tidak demikian.

menurut beliau, kalau manusia tidak seharusnya seperti itu, karena sejatinya tidak memiliki apa-apa, dan hal itulah yang terus memutar pikiran pak Muhib untuk sendiri karena sebuah alasan beliau tidak ingin membuat Allah kecewa dan pergi menjauhi-Nya. maka benar adanya bahwa musyrik (menyekutukan) adalah dosa terbesar yang tak bisa diampuni.

saya pun hanya menyeringai sambil teringat bayangan mantan yang sekarang sudah bahagia bersama suaminya heuhue. 

Allah Tak Peduli (bag. 2)

Allah selain memiliki Sifat Jalal, juga memilik sifat  Jamal  yang menjadi lawannya, bagaimanakah sifat Jalal Allah? Yaitu sifat agung yang mana Allah tak peduli seberapa taatnya seorang hamba, tapi jika Allah menghendakinya untuk suul khotimah maka semuanya bisa terjadi, lebih lengkapnya ada di Allah Tak Peduli (bag. 1).

Sedangkan sifat Jamal adalah kebalikannya, secara harfiah bermakna Indah, adapun pengertian istilahnya yaitu sifat murah Allah atau yang berhubungan dengan roja’ (harapan)

Meskipun ada seseorang yang memiliki sifat sangat terpuji, ibadahnya baik dan taat. tapi kalau sudah terkena Sifat Jalal Allah, Allah tak peduli, orang tersebut bisa saja dimasukkan ke neraka. Dan juga jika ada seorang yang sangat tercela akhlaknya, selalu berbuat maksiat. Namun bila Allah menghendakinya untuk dimasukkan ke Surga itu bisa saja terjadi, karena Allah sekali lagi memiliki sifat Jamal.



Jika seorang hamba selalu memikirkan Jamal Allah ini, maka hidupnya akan cenderung penuh percaya diri sehingga mengakibatkan ceroboh. Karena ia akan terus bergantung pada kemurahan Allah atau roja’ (harapan) tanpa mempertimbangkan unsur-ubnsur ibadah, kita tidak boleh terlalu membesarkan perasaan ini, begitu juga kita tidak boleh terlalu  khouf (takut) atau yang dikenal dengan sifat Jalal diatas tadi.
Mungkin akan lebih mudah dipahami melalui kisah, menurut cerita ada seseorang bernama Barom Al-Majusi, dia adalah manusia yang memiliki akhlak buruk. Pekerjaannya adalah rentenir, dia adalah orang yang sangat perhitungan duniawi, ia memiliki 4 anak perempuan yang dinikahkan dengan 4 anak laki-lakinya juga. Karena ia tidak mau repot dan rugi. Bahkan ketika istrinya melahirkan anak perempuan lagi, Barom pun menikahinya sendiri. Parah bukan?

Sampai suatu ketika, Barom yang bakhil itu mendapatkan sifat Jamal Allah sehingga ia husnul khotimah dan masuk ke surga. Penyebabnya hanya sekali saja Barom merasa iba terhadap 3 anak yatim yang belum makan 3 hari, ia pun memberi mereka makanan. Dan itulah yang menjadi penyebab ketika Barom akan meninggal ia mengucapkan syahadat dan dihapuskan dosanya. 

Allah tak peduli!, saya ingatkan kembali bahwa meskipun demikian jangan sampai berpikir Allah tidak adil, wah kacau kalau kesimpulannya seperti itu. Kalau kata Guru saya: dan Dia-lah Dia. manusia mah tidak pernah bisa mengerti apa kehendak Allah.

Intinya jangan sampai kita tidak berbuat apa-apa, pasrah bongkokan gitu jangan! Manusia diciptakan Allah untuk beribadah, selalu berharap pada-Nya. tapi ketika sudah berada di tataran bisa beramal baik jangan mengaku-aku paling hebat seakan-akan pasti masuk surga. Kita juga harus khouf takut akan kecerobohan yang suatu saat bisa menjerumuskan kita.

Demikian, mohon maaf dibatas kata. Wallahu a’lam bisshowab.

Lebih Utama Syariat atau Hakikat?

Mengapa saya jadi berpikir bahwa belakangan ini banyak orang megunggul-unggulkan ilmu hakikat dan memandang rendah sebuah syariat? 

Hakikat secara pengertian buta saya yaitu ilmu yang membahasa tentang inti atau hal-hal yang mengarah pada kebatinan, sedangkan syariat adalah peraturan tampak (luar) yang membahas segala ketaatan makhkuk secara fisik vertikal maupun horizontal.

Keduanya hanya istilah dari macam-macam disiplin ilmu yang banyak bertebaran di muka bumi. Namun diringkas dan di globalkan dalam dua nama tersebut. 

Jadi untuk memahaminya secara gampang-gampangan, kalau ilmu syariat itu yang berurusan dengan hukum halal-haram, tatacara, sah-tidaknya ibadah atau pekerjaan manusia contohnya sholat, jual beli, nikah dsb. Sedangkan hakikat itu yang berurusan dengan diterima atau tidaknya ibadah dari sisi batin contohnya riya’, dengki, sabar dsb.

Kalau ada orang yang bertanya, lebih unggul mana antara kedua jalan itu? Hakikat apa syariatnya? Jawabannya: ayo ngopi. 

Sebab jawaban itu butuh penjelasan yang lebar dan dengan kondisi fit jiwa raga. Kenapa harus bawa-bawa jiwa? Ya iyalah kan kita akan membahas yang batin atau yang bangsa jeroan. Lha kalau raga? Ya sudah pasti kalau kita ingin membahas apapun butuh terhadap raga, ora keno ora.

Yang jelas, sepengetahuan saya yang tidak tahu apa-apa ini (lho…?), kalau hakikat itu ibarat santan, sedangkan syariat itu kulit kelapanya. Tapi, dalam ekstensi kulit kelapa pun ada hakikatnya, dan sebaliknya, di dalam intisari santan pun ada syariat fisiknya. Mbulet kan?  Ya emang gitu.

Tidak ada yang lebih unggul dari keduanya, semua saling berhubungan seperti sebuah lingkaran. Ya seperti contoh diatas, kelapa tidak bisa benar-benar disebut kelapa kalau dia tidak memiliki santan dan kulit. Ibadah pun demikian, ibadah tidak bisa disebut ibadah kalau tidak ada syariat dan hakikat.

Lalu kalau ada pertanyaan menyusul seperti: lah baiknya didahulukan yang mana ya? Hakikat dulu apa syariat dulu? Untuk jawaban sementara: syariat dulu! Tapi sebenarnya tergantung persepsi juga. Insyaallah kalau diberi kekuatan untuk menjelaskannya, akan saya lanjutkan di postingan yang lain. Wallau a’lam bisshowab.

Jangan dicampur

Pikiran sering bekerja mengikuti kesenangan hati, secara tidak langsung pikiran manusia adalah budak bagi hatinya masing-masing. Ia yang memproses suatu perasaan agar menjadi demikian dan demikian.

Lelaki yang jatuh cinta, sontak isi kepalanya akan memikirkan beberapa cara agar dapat beradu dengan kekasih, hingga tak aneh jika mendadak banyak orang yang jatuh cinta menjadi mahir berpuisi indah. Seperti bait yang sering kita jumpai “aku melihat Tuhan dalam jernih matamu“. Kemudian bait itu pun menyebar kepada kalangan muda yang hatinya mudah tersentuh, kaum muda pun mulai mengangguk dan mengiyakan bahwa dia sering bahagia dan bersyukur jika sedang memandang kekasihnya.

Bermula dari itu, mereka pun salah tangkap dan menjadikan dalih bahwa bahagia dengan pujaannya itu membuat ia bersyukur dan mudah mengingat Tuhan. Padahal, maha suci Allah dari hal-hal terselubung seperti itu. Memang ada kisahnya Allah membuat fana hati seseorang sehingga ketika ia melihat kekasihnya ia selalu menyebut dan benar-benar seperti bertemu Allah, namun yang demikian tidak bisa kita ikuti karena secara fiqh hukum orang yang seperti itu dianggap gila dan tidak boleh disanjung.

Lalu apa kita tidak boleh bersyukur dan bertasbih karena melihat kecantikan/ketampanan paras manusia yang diciptakan Allah? Jawabannya sah-sah saja, namun untuk zaman seperti ini sepertinya perbuatan seperti itu pasti mengandung udang dibalik batu. Kalau sama-sama mengagumi ciptaan Allah untuk membuat kita mengingatNya, mengapa kita tak memilih memandangi bunga-bunga atau hewan yang berkicau dipagi hari saja? Hal demikian tidak banyak madlorot (bahaya)nya. 

Kalau jatuh cinta sama manusia, ya pakai cara manusia saja. Jangan bawa-bawa Tuhan apalagi sampai membandingkanNya. Kalau kita sholat lalu teringat kekasih, betapa kita sudah meremehkan Allah? Ibaratnya, jika wanita sedang duduk berdua dengan suaminya lalu sang istri justru memikirkan dan membahas lelaki lain, betapa murkanya suami itu. Ia sudah buatkan tempat untuk wanita pujaannya, namun sang pujaan malah memikirkan orang lain.

Jangan dicampur. Allah tidak menyerupai apapun termasuk manusia. Laisa kamitslihi syaiun. Kalau kata guru saya, Andi Bombang (allahumma irhamhu) : dan Dia-lah Dia.