Perayaan

Sembilan belas tahun setelah kelahiranmu
tentang renyut jantungku
sebagai tempat perayaan ulang tahun berikutnya
haruskah kuyakini itu
saat aku tak berkeinginan
dengan siapa pergi ke pelaminan

Dua puluh satu tahun setelah hari kelahiranmu
kau merayakan pesta pernikahan dan ulang tahun secara bersamaan
sedang aku merayakan sesal dalam-dalam
kucoba yakinkan
hidup tidak sepi meski tanpa pasangan

Tiga puluh tahun setelah hari kelahiranmu
kau mulai merayakan kelahiran anak kedua
sementara aku tak lagi merayakan apapun
semakin ku yakin
kehidupan hanya mengulang-ulang hari kelahiran yang menyakitkan

Tiga puluh dua tahun setelah hari kelahiranmu
kau berkabung menangisi perpisahan, meratapi kesendirian
namun kau tetap merayakan ulang tahun bersamaku dan anak-anak kita
aku benar-benar yakin
pernikahan hanya menunggu perayaan-perayaan

Iklan

Perasaan Matahari sebelum tenggelam

Bila kau tak mencumbu, rindu hanya menganakkan luka tak terjeda
Merangkaki pembuluh darah sampai menggumpal di hati
Hati bukan daging di dada kiri, lebih dari itu

Indra tubuh adalah pintu-pintu, semua kan menutup diujung hidup
Hanya hati, gapura yang tak mungkin lapuk
Sayangnya kau pergi mengoroki serpihan yang tak terbawa mati

Usia tak pernah khianat pada janjinya, menemani sebentar lalu pudar

Apakah yang lebih menyesakkan daripada penyesalan?
Melihatmu tak melihatku.

Keruh

Setidaknya, sebagian orang pernah masuk pada ruang yang tak ia kenali dan sulit untuk diceritakan.
Mereka hanya sanggup mememeluk lutut sendiri sambil menatap langit, menunggu cahaya menerobos dan menggambarkan keadaan.
Sebagian lagi, menunduk tanpa harapan, ditimang oleh keraguan.

Ada kebingungan yang menelusupi dadaku, perihal kedatangan selalu berujung kepergian.
Bagaimana seseorang dapat memastikan kebenaran pilihannya? Mencintai tanpa memiliki ataukah memiliki tapi tidak mencintai.

Hilang

Kalau sudah begini
kuharap kamu tiba-tiba datang dan menenangkan jiwaku
aku ingin bertanya padamu tentang semut yang merayapi tubuhku
ia selalu membisikkan bahasa yang sulit tuk kuartikan, benarkah bahwa semut-semut itu mengajakku berbicara

Kalau sudah begini
kuharap kamu tiba-tiba datang dan duduk di bangku sebelah
aku ingin meyakinkanmu bahwa beginilah diriku saat tak yakin
pada saat tertentu, dedaunan yang jatuh itu menyanyikan lagu-lagu pendek yang merdu,
juga anginnya, telingaku mendengar jelas, hembusannya menyenandungkan musik yang indah

Kalau sudah begini
kuharap kamu tiba-tiba datang dan menyeduh teh buatanku
ketika hujan telah usai, ku sesap aroma tanah yang basah dan perlahan aku entah dimana, kukira di surga, tapi mengapa manusia sepertiku ada disana
kalau itu neraka, mengapa aku tak merasakan sakit

Kalau sudah begini
kuharap kamu tiba-tiba datang dan rela diri tuk kujadikan sandaran
siapakah diriku? lalu kamu menjelaskannya secara perlahan dan sabar
menarik lenganku saat aku tersesat
menuntun langkahku saat aku tak mampu melihat

Kalau sudah begini
kuharap kamu tiba-tiba datang dan aku sembunyi di tubuhmu.

Pesan untuk Istrinya

Kalau kau telah bersuami dan aku masih sendiri
Bolehkah aku tetap menyimpanmu dalam sepi?
Kalau aku masih sendiri dan kau telah bersuami
Relakah kau kubayang dalam mimpi?

Bila kau tetap hidup dan aku sudah mati
Apa air matamu kan basahi pipi?
Bila aku tetap hidup dan kau sudah mati
Semoga tak begini

Bersiaplah tuk pergi
Kemas bajumu sejak saat ini
Karena mati tak pernah peduli
Untukmu yang telah bersuami
atau sepertiku yang kian sendiri