Lebih Utama Syariat atau Hakikat?


Mengapa saya jadi berpikir bahwa belakangan ini banyak orang megunggul-unggulkan ilmu hakikat dan memandang rendah sebuah syariat? 

Hakikat secara pengertian buta saya yaitu ilmu yang membahasa tentang inti atau hal-hal yang mengarah pada kebatinan, sedangkan syariat adalah peraturan tampak (luar) yang membahas segala ketaatan makhkuk secara fisik vertikal maupun horizontal.

Keduanya hanya istilah dari macam-macam disiplin ilmu yang banyak bertebaran di muka bumi. Namun diringkas dan di globalkan dalam dua nama tersebut. 

Jadi untuk memahaminya secara gampang-gampangan, kalau ilmu syariat itu yang berurusan dengan hukum halal-haram, tatacara, sah-tidaknya ibadah atau pekerjaan manusia contohnya sholat, jual beli, nikah dsb. Sedangkan hakikat itu yang berurusan dengan diterima atau tidaknya ibadah dari sisi batin contohnya riya’, dengki, sabar dsb.

Kalau ada orang yang bertanya, lebih unggul mana antara kedua jalan itu? Hakikat apa syariatnya? Jawabannya: ayo ngopi. 

Sebab jawaban itu butuh penjelasan yang lebar dan dengan kondisi fit jiwa raga. Kenapa harus bawa-bawa jiwa? Ya iyalah kan kita akan membahas yang batin atau yang bangsa jeroan. Lha kalau raga? Ya sudah pasti kalau kita ingin membahas apapun butuh terhadap raga, ora keno ora.

Yang jelas, sepengetahuan saya yang tidak tahu apa-apa ini (lho…?), kalau hakikat itu ibarat santan, sedangkan syariat itu kulit kelapanya. Tapi, dalam ekstensi kulit kelapa pun ada hakikatnya, dan sebaliknya, di dalam intisari santan pun ada syariat fisiknya. Mbulet kan?  Ya emang gitu.

Tidak ada yang lebih unggul dari keduanya, semua saling berhubungan seperti sebuah lingkaran. Ya seperti contoh diatas, kelapa tidak bisa benar-benar disebut kelapa kalau dia tidak memiliki santan dan kulit. Ibadah pun demikian, ibadah tidak bisa disebut ibadah kalau tidak ada syariat dan hakikat.

Lalu kalau ada pertanyaan menyusul seperti: lah baiknya didahulukan yang mana ya? Hakikat dulu apa syariat dulu? Untuk jawaban sementara: syariat dulu! Tapi sebenarnya tergantung persepsi juga. Insyaallah kalau diberi kekuatan untuk menjelaskannya, akan saya lanjutkan di postingan yang lain. Wallau a’lam bisshowab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s