Jangan dicampur


Pikiran sering bekerja mengikuti kesenangan hati, secara tidak langsung pikiran manusia adalah budak bagi hatinya masing-masing. Ia yang memproses suatu perasaan agar menjadi demikian dan demikian.

Lelaki yang jatuh cinta, sontak isi kepalanya akan memikirkan beberapa cara agar dapat beradu dengan kekasih, hingga tak aneh jika mendadak banyak orang yang jatuh cinta menjadi mahir berpuisi indah. Seperti bait yang sering kita jumpai “aku melihat Tuhan dalam jernih matamu“. Kemudian bait itu pun menyebar kepada kalangan muda yang hatinya mudah tersentuh, kaum muda pun mulai mengangguk dan mengiyakan bahwa dia sering bahagia dan bersyukur jika sedang memandang kekasihnya.

Bermula dari itu, mereka pun salah tangkap dan menjadikan dalih bahwa bahagia dengan pujaannya itu membuat ia bersyukur dan mudah mengingat Tuhan. Padahal, maha suci Allah dari hal-hal terselubung seperti itu. Memang ada kisahnya Allah membuat fana hati seseorang sehingga ketika ia melihat kekasihnya ia selalu menyebut dan benar-benar seperti bertemu Allah, namun yang demikian tidak bisa kita ikuti karena secara fiqh hukum orang yang seperti itu dianggap gila dan tidak boleh disanjung.

Lalu apa kita tidak boleh bersyukur dan bertasbih karena melihat kecantikan/ketampanan paras manusia yang diciptakan Allah? Jawabannya sah-sah saja, namun untuk zaman seperti ini sepertinya perbuatan seperti itu pasti mengandung udang dibalik batu. Kalau sama-sama mengagumi ciptaan Allah untuk membuat kita mengingatNya, mengapa kita tak memilih memandangi bunga-bunga atau hewan yang berkicau dipagi hari saja? Hal demikian tidak banyak madlorot (bahaya)nya. 

Kalau jatuh cinta sama manusia, ya pakai cara manusia saja. Jangan bawa-bawa Tuhan apalagi sampai membandingkanNya. Kalau kita sholat lalu teringat kekasih, betapa kita sudah meremehkan Allah? Ibaratnya, jika wanita sedang duduk berdua dengan suaminya lalu sang istri justru memikirkan dan membahas lelaki lain, betapa murkanya suami itu. Ia sudah buatkan tempat untuk wanita pujaannya, namun sang pujaan malah memikirkan orang lain.

Jangan dicampur. Allah tidak menyerupai apapun termasuk manusia. Laisa kamitslihi syaiun. Kalau kata guru saya, Andi Bombang (allahumma irhamhu) : dan Dia-lah Dia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s