Manunggaling Kopi


Sudah lama sejak kepergianku dari engkau, hidup seperti botol kosong di tengah laut, hanya mengikuti kemana kaki pergi.

Bukan maksud membandingkan, bersama engkau dan sendiri berbeda arti. Engkau bersamaku; aku tak butuh apa karena raga dan jiwa seperti tiada. Kini aku sepi; kukejar kau sampai kedalam hati.

Seperti yang engkau tau, aku tak pernah membisikkan kata pergi pada diri sendiri, namun aku kalut pada dunia yang ramai hingga kehilangan engkau.

Seperti yang sudah-sudah, aku terus berusaha mengingat engkau dengan berbagai cara. Menyeduh kopi lagi misalnya.

Kini aku memakai cara baru dalam menikmati kopi, tanpa gula. Karena saking pahitnya akan membuat siapa saja yang menyeduh menyebut nama engkau: termasuk aku.

Selain itu, kopiku yang pahit adalah penyesuaian hidup. Tubuhku memang pernah kalah berperang dengan kopi, dan hanya engkau yang selalu mengingatkan bahayanya. Namun kini aku kembali mengangkat senjata.

Aku berjanji jika engkau sudah kembali, aku tak ngopi lagi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s