Allah Tak Peduli (bag. I)


Allah memiliki sifat yang disebut Al-Jalal dengan arti Maha Agung. Keagungan-Nya seperti yang selama ini kita lihat di sekekiling kehidupan ini, betapa Agungnya Dia hingga tak peduli siapa dan bagaimana derajat hamba-Nya.

Pastilah ada, manusia baik di dunia ini namun hidupnya cenderung dikerumuni kesusahan dan malapetaka. Dan sebaliknya, tentu ada juga manusia buruk di dunia ini tetapi hidupnya senantiasa damai dan penuh kesenangan.

Itulah sifat Jalal Allah, ingat! kita tak bisa menggugatnya dan membuat pernyataan bahwa Dia tidak adil. Karena adil belum tentu sama rata dan seimbang.

Filusuf besar yang berjuluk hujjatul islam, al-Imam Abi Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali mengibaratkan sifat Jalal Allah ini seperti seekor macan yang lapar, bila macan ini memasuki rumah penduduk maka ia tak pernah peduli tentang rumah siapakah itu, entah rumah Kyai, Presiden, Pemulung, Ustadz atau yang lain. Macan tak peduli, ia lapar!. Bila ia bertemu kucing dalam rumah itu maka itulah santapannya, bila yang ada bayi imut pun macan tetap menganggap sama sebagai sebuah menu makannya.

Jika masih bingung akan saya contohkan sebuah kisah, dulu pernah ada seorang Ulama terkemuka (saya lupa namanya), beliau ini masih saudara kandung Luqman Hakim sang ayah nan bijaksana yang namanya tertulis pada Al-Qur’an itu, Ulama tersebut dikabarkan seorang ampuh yang doanya mustajab selalu langsung dikabulkan Allah meskipun kalimat doanya belum selesai, namun siapa nyana ia meninggal dengan keadaan su’ul khotimah. Lantaran istrinya melihat seorang Kafir datang dengan membawa sebongkah emas, dan mohon untuk didoakan agar menang melawan kaum muslim, mulanya ia tidak mau mendoaakan namun karena rayuan istrinya akhirnya ia mengangguk, dan saat itulah Allah mencabut nyawanya hingga lidahnya menjulur sampai ke pusar. Wallahu A’lam.

Begitulah contoh dan ibarat keagungan Allah yang tak peduli siapa kita, Bagaimana dekatnya kita dengan-Nya, sebanyak apa ibadah dan kebaikan yang telah kita lakukan, Allah Maha Agung suatu saat bisa saja membalik semua dan menghancurkan kita. Perlu diingat!!! Tidak semua yang berawal baik akan berakhir buruk, kebanyakan apa yang berawal baik maka akan berakhir baik pula, oleh sebab itu jangan lantas kita putus asa dan tak beribadah atau berbuat baik samasekali!.

Jika hati manusia terlalu memikirkan sifat Keagungan Allah ini, hatinya akan merasa khawatir dan sumpek. Kita tak lagi punya harapan, karena bisa jadi akhir hidup kita akan merosot jatuh ke dasar kenistaan, padahal selama ini kita telah berusaha dan bersusah payah menjadi hamba yang baik.

Inilah yang disebut dengan Khof atau khawatir, dalam diri manusia selalu ada khawatir dan harapan, keduanya harus seimbang. 

Sifat Al-Jalal Allah dalam keadaan ini memiliki lawan sifat Al-Jamal yang berkaitan denga Roja’ atau harapan (insyaallah akan saya tulis pada bagian berikutnya).

Wallahu A’lam Bisshowab

Iklan

One thought on “Allah Tak Peduli (bag. I)

  1. […] Allah selain memiliki Sifat Jalal, juga memilik sifat  Jamal  yang menjadi lawannya, bagaimanakah sifat Jalal Allah? Yaitu sifat agung yang mana Allah tak peduli seberapa taatnya seorang hamba, tapi jika Allah menghendakinya untuk suul khotimah maka semuanya bisa terjadi, lebih lengkapnya ada di Allah Tak Peduli (bag. 1). […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s