Segelas Kopi dan Senyumanmu yang penuh cemburu


image

Membaca pesan-pesanmu setelah sekian waktu tak bertemu seperti rasanya kita saling beradu
Pada suratmu itu, kurasakan halus ada bekas tanganmu kugenggam tiap ku ragu
Selalu tiba-tiba bersamamu

Terimakasih pula, Dik
tak cukup hanya menuangkan air panas lalu kopi dan gula larut
hatiku dan hatimu meski tak mengambang tetaplah bukan satu dzat
tiap harinya bergejolak diaduk cemburu dan khawatir
Sakit beradu tapi tiada saat bertenu

Kita terus berputar dalam prasangka-prasangka
Namun percayalah, kita tetap berada dalam satu gelas
sampai aku dan kamu menjadi satu dzat bernama kopi
telah larut
menjelng senja penuh capung menari-nari di cakrawala

Begitulah kisah kopi dan gula yang sakit diaduk cemburu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s