Surat 11 Tahun Yang Lalu


Tulisan ini sebenarnya ingin kubuat saat kita masih bisa saling bertemu, dulu semasa sekolah dasar maksudnya. Kalau kau ingat masa kecilku termasuk orang dengan sejuta ketakutan, dari gayaku menyisir rambut yang menipis ke kanan atau tali sepatuku yang selalu terikat rapih.

Entah dari mana aku akan menceritakannya, kira-kira kelas 4 SD ketika dunia sudah berhasil meracuni anak-anak seusia itu dengan cinta lewat tayangan sinetron dan sebagainya, maka saat itu pula otak anak-anak ingusan pun terkontaminasi. Hahaha pada masa itu tenar sekali sebuah aksesoris seperti topi, tas, gelang dll. Bertuliskan sebuah nama sinetron “tersanjung” aku pun sempat memiliki topinya dan kalau tidak salah kau juga pernah punya yang berupa tas bukan?

Sejak saat itulah, anak seusia kami mengenal istilah cinta. Kalau kau ingat lagi, saking pendiamnya aku, aku pernah dipukul pakai penggaris sama pak kepala sekolah karena dikira tidur, ah rasanya ingin menangis tapi malu.

Tulisan ini sebenarnya ingin kubuat saat kita masih bisa bertemu, namun saat itu untuk menuliskan sebuah perasaan tak semudah sekarang. Meskipun semakin dewasa seseorang maka semakin berputar-putar pula perasaannya.

Kita telah lama terpisah sembilan tahun lebih dan sekejap pun tak pernah bertatap, tak ada kontak juga tak ada kabar. Yang kudengar dari ibuku memang sesekali duakali ada teman sekolah dasar yang sambang ke rumah, semoga itu kamu.
Aku memang sudah bertahun-tahun jarang menikmati liburan di kampung halaman, hitung-hitung tirakat seperti sebuah kepompong, agar kelak aku bisa menjadi kupu-kupu di masyarakat. Dan kau mulai mengenaliku kembali.

Aku masih memendam sebuah pertanyaan, masih tetapkah rumahmu? Rumah yang menghadap ke arah matahari tenggelam, ah seru sekali tiap sore seharusnya kamu cukup berdiam diri diberanda rumah dan memandangi sunset, sambil mengingat teman-temanmu masa kecil, termasuk aku.
Kalau sempat, suatu saat semoga aku bisa mampir ke rumahmu untuk sekedar bertanya kabar atau menjalin kembali silaturrahim. Aku berjanji tak akan neko-neko, karena kita harusnya sudah bisa saling membaca sikap seseorang. Aku juga tetap belum menjadi orang yang pandai bercakap-cakap.

Bagaimana kabarmu? Banyak teman-teman kita yang telah berumahtangga dan beranak, kulihat dari media sosialmu sepertinya kamu masih berpegang teguh untuk sendiri dan menyelesaikan pendidikan. Aku tak sengaja menemukan sosial mediamu dan tanpa kesadaranmu aku telah diam-diam stalking. Heuhue… aku sahabatmu, kalau kau ingat.

Jangan bertanya balik tentang kabarku, heuhue aku masih pendiam dan belum berani untuk beristri. Semoga kau tak membully membaca surat yang sebenarnya ingin kutulis 11 tahun yang lalu.

Iklan

One thought on “Surat 11 Tahun Yang Lalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s