Bulan Pecah Dalam Gelas


Bila kuingat kembali, pada malam-malam gelap di desaku saat belum ada cahaya yang menerangi rumah-rumah, kami hanya terdiam dan orang tua mendongengkan seramnya Sis atau demit lainnya.
Kepala kami pun penuh dengan imajinasi dan ketakutan

Tak sedikit saja kami berani melongok malam yang penuh keajaiban
namun pada suatu ketika, kuberanikan keluar dari fikiranku sendiri tuk menyaksikan sadisnya petang
ternyata ketakutan hanya ada dalam benak
malam yang kukenal kala itu sungguh indah
di langitnya bertebaran cahaya-cahaya kecil dan sebuah bulan yang menawan, anginnya yang mendesirkan rasa-rasa aneh. maka aku mulai jatuh cinta saat malam tiba dengan sebuah bulan yang dikelilingi awan.

Bila kuingat kembali, ternyata aku hanya terbujuk oleh pengelihatanku.
hati dan raga tak pernah setuju hubungan mataku dengan rembulan
tubuhku kurus, hatiku sakit-sakitan diambang kematian
malam tak begitu baik tuk kesehatan, karena bulan bukanlah rumah Tuhan.

Kini kuakui, orang tua kami lebih waspada terhadap anak-anaknya
kami harus belajar banyak lagi perihal kegelapan agar tak saling bertabrakan

Bila kuingat kembali, banyak waktu yang terbuang sia-sia, hanya untuk membalas senyuman pada rembulan
padahal kalau dapat kumengerti, rembulan selalu meninggalkanku sendiri saat fajar datang

Namun hidup tak pernah salah melemparkan dadunya, waktu yang terbuang adalah pengisi waktu kosong tuk menanti hal baru, agar manusia tak membunuh dirinya dengan sebuah fikiran pendek.

Kau datang membawa segelas air, di dalamnya bulan tak pernah nyata meskipun aku bisa menyentuhnya.
Kau ajari pula bagaimana melihat diriku sendiri dan ketika itu bulan pun pecah dalam gelas. Tak ada lagi keindahan mata, karena semua hanya khayalan, termasuk wajahku sendiri.

Bila kuingat kembali, aku tak perlu mengingat kembali. Aku hanya perlu kau selalu ada dalam hembus nafas dan perjalanan yang melelahkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s