Ketenangan


Tiap individu memaknai ketenangan dengan ilmunya masing-masing, sebagian lagi tak ambil pusing tentang apa itu sebuah ketenangan, jalani saja seperti air mengalir, kalau lagi mujur ya jatuh juga pada hakikat ketenangan itu sendiri.

saya sendiri pernah jungkir balik mencari ketenangan, karena hidup saya cukup mobat-mabit dalam urusan batin khususnya. setahun dua tahun beberapa tahun belum juga ketemu tuh sama yang anteng-antengan, boro-boro ketemu, terendus baunya saja tidak.
Hmm numpang curhat sedikit nih, kata orang-orang saya ini orang yang dewasa terlalu dini, maksudnya dewasa fikiran. Kata orang lho ini, saya sendiri sebenarnya tidak merasa demikian, biasa wae ki.
Jadi sejak kecil saya ini memang sering berkumpul dengan orang-orang yang usianya jauh beberapa kali lipat dibanding umur saya, ketika menginjak usia kira-kira 16 tahunan fikiran saya sudah terinfeksi hal-hal aneh (suatu saat kalau diberi kekuatan untuk menulis hal aneh ini, akan saya ceritakan).
Saat masa puberitas itu saya sering menuliskan beberapa pertanyaan yang sulit untuk diajukan, mungkin semua orang bisa menjawabnya tapi entah mengapa pertanyaan itu sendiri malah sulit untuk diungkapkan.

Balik ke masalah ketenangan, saya sempat berfikir bahwa ketenangan itu ada dan harus dicari, tahun 2008-an insting saya bekerja lebih besar dalam mempengaruhi jalan hidup, dulu saya sering berjalan kemana saja tanpa tujuan saat malam hari, pernah juga pergi keluar kota beberapa kali, ikut-ikutan teman mendaki gunung-gunung. Tujuannya adalah mencari ketenangan, namun setelah sampai disuatu tempat yang dianggap tujuan disana tidak ada apa-apa, kosong momplong, ya ada sih tapi hanya sebuah pertanda yang samar-samar. maksud saya ketenangan itu tidak pernah saya temukan ketika saya sudah berhenti di tempat yang saya anggap tujuan.

Hari ini, saya kemudian sedikit tercerahkan bahwa ketenangan itu bukan tersimpan disuatu tempat, yang untuk menggapainya harus bersusah payah melanglang buana. Justru ketenangan adalah sebuah perjalanan atau proses dalam diri sendiri. Pengertian ini menurut pengalaman yang saya alami sendiri, jadi menurut orang lain mungkin berbeda lah.
seperti perjalanan ketika saya ke gunung misalnya, ketika sampai puncak dalam relung hati yang paling dalam cieilaaah… sebenarnya saya tetap biasa saja, tak ada yang istimewa. Atau ketika saya pergi kesuatu kota dengan tujuan mencari ketenangan dulu, justru yang saya rasakan ketenangannya pada saat berada di perjalanannya.

Beberapa hari yang lewat, ada teman yang bertanya pada saya kira kira begini: supaya bisa tenang itu bagaimana ya? Dimanapun tempatnya saya ingin nyaman, tenang.
Saya tidak bisa menjawabnya, hanya cengangas cengenges macam kuda poni.

Dan kesimpulannya, menurut keterbatasan insan lemah yang kurus jangkung ini, ketenangan itu ibarat sebuah rantai yang mengaitkan beberapa gear agar roda dapat berjalan, kalau rantai itu kendor sudah pasti kendaraannya tidak bisa berjalan normal atau tenang, anteng gak hulig-hulig. Kalau kita ingin tenang bin anteng dalam perjalanan, baiknya kita cek dulu apakah rantai dan kelengkapan kendaraan kita sudah benar, sudah memenuhi uji standar hidup manusia.
intinya, semua harus normal dan ikuti peraturan-peraturan yang ada agar kita bisa menuju Tuhan terasa nyaman, tenang dengan senyum-senyum manis dikit. Hehe.

Wallahu a’lamu bisshawab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s