Subuh Yang Masih Misteri


Jika pada saat ini indonesia digegerkan dengan pernyataan seorang wakil presiden yang merasa terganggu suara tarkhim (seruan sebelum adzan) saya justru kembali terngiang masalah serupa, perkara subuh. masalahnya bukan karena terganggu seperti yang dialami bapak wakil presiden kita, tapi masalah suara pelantun adzan tersebut.

di Lampung, tanah kelahiran saya masyarakat yang adzan subuh di surau atau masjid-masjid sudah bisa dipastikan suaranya terdengar meleok-leok, bukanlah karena muadzinnya tape kaset tapi seorang lelaki tua yang sudah berusia lanjut, bila dinilai dalam kualitas vocal tentu dibawah nilai cukup. memang tidak semuanya muadzin subuh itu sudah tua, tapi sebagian besar.

saya kira kejanggalan ini hanya terjadi di Lampung. ternyata saat saya melanjutkan sekolah di pulau Jawa, Kediri. polemik tersembunyi ini sama saja hampir menyeluruh, padahal jawa timur khususnya karisedanan Kediri banyak sekali Pesantren salafi atau modern.
bila diperhatikan mungkin hanya pada Pesantren-pesantren itulah muadzin subuhnya terdengar memiliki suara merdu dan tegas tidak meleok-leok, bisa kita lihat sendiri memang muadzinnya adalah santri-santri yang masih muda.
lepas dari lingkungan Pesantren, tentu adalah bapak-bapak tua yang menyerukan panggilan ilahi saat subuh tiba.

kemanakah hilangnya yang muda seperti kita?
masih menjadi sebuah misteri, mayoritas umat muslim indonesia dengan menelisik KTP-nya hanya sepersekian yang benar-benar muslim dalam artian religius sederhana yaitu islam tergantung musim, tentu akan sangat berbeda jumlah pemakai jilbab saat puasa-lebaran dan saat tahun baru atau hari biasa. dan sangat terlihat berbeda pula jumlah jamaah shalat maghrib dan subuh; tergantung waktu ramai manusianya saat apa.
mungkin adalah penyakit lama menunggu usia beranjak tua baru sadar dan menjadi religius.

kemudian bila disandingkan dengan masalah bapak wakil presiden, mengapa beliau terganggu dengan suara ngaji menjelang subuh lalu hendak membuat undang-undang melarang masjid dan musholla mengeraskan suara sekian dan sekian. bukankah tujuan dari semua itu memang untuk menyadarkan mereka yang terbuai agar segera mendekat pada Tuhan. solusi macam apakah ini? malah membuat masyarakat jadi bertanya-tanya tentang kapasitas agama yang merasa risih itu.

Wahai yang memiliki wewenang mengatur negara, ada baiknya buatlah solusi permasalahan kita yang sangat lembut, dan meraba diri sendiri. mengapa kita   pura-pura bersembunyi dari Tuhan, apakah harus menunggu suara kita meleok-leok seperti kaset pita rusak dan menunggu renta barulah kita menyambangi rumah Tuhan dengan harapan habisnya ajal ditempat yang indah.

ada salah satu ulama yang menjelaskan bahwa salah satu tanda mati su’ul khatimah adalah mereka yang berbicara sendiri (mengabaikan) saat ada seruan ilahi.

oleh: wapenk

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s