Bahaya Banyak Berprasangka


“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” [Al-Hujurat : 12]

Jika kita meresapi ayat diatas kita diajari oleh Allah untuk tidak berprasangka terhadap siapapun (baik itu perasangka baik atau buruk). Lalu kita diperintah untuk tidak selalu mencari-mencari kesalahan orang lain.

Manusia tercipta sebagai khilafah bumi sebab ia yang paling beruntung (sempurna) dibanding makhluk lainnya. Allah menganugerahi hati dan fikiran untuk selalu mendekat padaNya. Namun bukan perkara yang mudah bagi manusia untuk mengarahkan hati menuju jalan yang bersih atau suci. Butuh olah batin secara perlahan untuk mensucikan segumpal daging ini.

Salahsatu perbuatan hati yang dilarang adalah su’u dzhan atau perasangka buruk. sebab hal ini adalah perilaku yang bisa menutup hati dari ma’rifat kepada Allah.
Untuk melatihnya, seperti dalam kalamullah diatas, kita diperintah untuk menjauhi banyak berprasangka, meskipun prasangka itu baik, Karena sebagian dari dzhan adalah dosa. Kita pun bisa mengambil kesimpulan bahwa jika perasangka baik saja bisa berbahaya menimbulkan dosa apalagi prasangka buruk.

Prasangka baik yang tidak baik.
misal saja kita menyana bahwa si A akan menghutangi kita sebab ia orang yang kaya. Ia memang memiliki sifat murah hati. setiap kehabisan uang kita menyana bahwa si A orang yang dermawan dan akan memberikan pinjaman kepada kita, dan kenyataannya selalu seperti itu.
Hal semacam ini membuat kita selalu bergantung pada hasil nyana kita pada si A, dan membuat kita thoma’ (mengharap) selain pada Allah. Dan kita ketahui bahwa hutang bukanlah gaya hidup yang baik.

Jangan mencari kesalahan orang lain.
Gajah dikelopak mata tak kelihatan, semut diseberang lautan kelihatan.
adalah sebuah perumpamaan bagi sikap yang suka mencari keburukan/kesalahan orang lain walau sekecil apapun, akan tetapi kesalahan diri sendiri yang sebesar gajah malah seolah-olah tidak nampak.
Tidak akan ada habisnya mencari kesalah orang lain, karena manusia memang tempat salah dan khilaf. Perbuatan ini adalah perbuatan pecundang dan terkesan seperti anak kecil.
Bersikaplah kesatria seperti sabda Rasulullah:

ﻭَﻣَﻦْ ﺳَﺘَﺮ ﻣُﺴْﻠِﻤًﺎ، ﺳَﺘَﺮَﻩُ ﺍﻟﻠﻪ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟﻘِﻴَﺎﻣَﺔ
Artinya : “Dan barang siapa yang menutupi (keburukan) seorang muslim maka Allah akan menutupi (keburukannya) di hari kiamat.” (HR Bukhori dan Muslim).

Betapa pentingnya ibadah batin ini sampai-sampai konon dosa yang diakibatkan oleh perkara batin selalu lebih besar madharat dan bahayanya daripada dosa lahir. Bayangkan seorang pelacur, berapa besar dosanya? Sekali berzinah saja mesti dihukum rajam! Nah, suatu kali ketika pelacur itu lewat di depan kita, dan lantas hati kita menggumam “ah, dasar pelacur!!!” hingga kita merasa lebih baik dari padanya, dosa yang kita peroleh (berkat merasa lebih baik itu) lebih besar daripada dosa-dosa pelacur itu sendiri. Astaghfirullah. Madharat yang terlahir darinya apalagi.

Begitulah, perkara hati ini susah-susah mudah. Tapi susah bukan berarti tidak bisa, kita harus mengolahnya dikit demi sedikit. InsyaAllah jika hati (batin) seseorang itu baik, maka lakunya (dzahir) juga baik.
Wallahu a’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s