Penggila Wulan


Baiklah saya akan bercerita tentang teman saya yang aneh, dia adalah satu-satunya manusia yang saya jumpai paling unik sekampung atau bahkan sedunia, masalahnya selain itu dia juga tetangga saya yang rumahnya sama sekali tidak berjarak jauh dengan saya. Sebelum kamu membaca Ini sampai kelar akan saya beri tau bahwa ini bukan cerita tentang pacar lima langkah, bukan! Sebab dia adalah lelaki dan saya juga bukan perempuan.

***

Dulu saat kami berusia sekitar tujuh tahunan teman saya itu sering menjerit-jerit histeris padawaktu-waktu orang mulai terlelap, sungguh kejadian itu mulanya sangat menggegerkan penduduk dan para tetangga, terlebih saya yang kamarnya hanya berjarak gang kecil dengan sumber jeritan itu–kamar saya dan kamarnya.

Pada saat itu orang-orang mengira itu adalah suara perempuan diperkosa ada juga yang menyangka suara kucing yang sedang bertemu dengan lawan jenisnya padahal itu adalah suara seseorang sepantaran saya sedang ketakutan sebab ia tidak bisa tidur dibawah atap apabila dilangit ada bulan, yah bulan yang sedang bersinar dihiasi bintang-bintang itu. Katanya ia seperti buta begitu saja semua terlihat gelap meskipun lampu petromak sudah menyala didepan mata –maklum tempoe doeloe. Untuk urusan teriakan itu maka terpecahkan sudah, kesimpulannya dia tidak akan berteriak-teriak lagi jika dibawa keluar ruangan tak beratap, Kejadian yang seperti itu hanya akan ia alami saat bulan terlihat nangkring dilangit jadi kalau langit sedang tidak mengundang bulan maka selesai sudah kami semua bisa tidur lagi dan dia pun bisa terlelap juga dengan tanpa berteriak menyerupai suara kucing. Maka tidak heran kalau dia orangnya berparas kurus sebab dia terlalu banyak mengkonsumsi angin malam yang kata para dokter itu tidak baik untuk kesehatan

Boleh dikata sahabat saya ini adalah pengagum bulan, tidak dipermasalahkan bentuk bulannya seperti apa entah bundar sempurna, lonjong, lengkung cekung, segitiga, segi-empat, benjol atau penyot. Tapi menurut penuturannya bulan yang melengkung seperti senyuman adalah yang paling menenangkan hati. Biasanya akan kita akan menjumpainya saat awal-awal bulan hijriyyah

orang-orang menganggap saya dan dia adalah saudara kembar, hah tidak lucu bukan?. Oke mungkin karena rumah kami yang bersebelahan dan memang kami selalu bersama sejak kecil, mulai dari sekolah dasar sampai lulus SMA kami selalu satu kelas, bedanya lebih pintar dia cakepnya sih menangan saya dikitlah. Namun lepas itu saya dan dia sudah tidak sekelas lagi, saya memilih untuk kuliah sedangkan sahabat karib saya itu memilih nyantri dipondok pesantren. Saya tidak mempermasalahkan dia mau kemana atau kemana mungkin itu adalah jalan yang sudah dia masak secara matang-matang, seperti keputusan saya yang juga sudah saya pertimbangkan. Kami belajar saling mengerti tanpa menjatuhkan.

***

Jika kita memandang kebelakang maka semua akan terasa cepat, tak terasa saya sudah terwisuda dan bergelar sarjana muda banyak waktu-waktu pahit yang saya lalui tentang jungkir baliknya saya dengan skripsi yang ternyata bisa dibeli, tentang teori ini itu yang sekarang hanya menumpuk di rak lemari buku, ingin sekali rasanya saya jual perkilo tapi ah itu kan ilmu.

Tujuh hari yang akan datang, kabarnya teman saya yang penggila bulan itu akan pulang kampong pertamakali segaligus mengakhiri masa menyantrinya setelah tujuh tahun dia tidak keluar pondok samasekali, terhitung sejak pertama kali masuk pesantren, saya heran betul gerangan apa yang membuat ia begitu betah disana

Tujuh hari yang lalu, saya sempat menemui teman karib saya itu dipesantrennya pertama tujuan saya adalah untuk temu kangen yah walau dulu rada nyebelin tapi orang ini bener-bener ngangenin, kedua saya hendak meminta do’a ke Kyainya untuk kemudahan saya dalam mencari pekerjaan sebab dinegri ini walaupun punya gelar satinggi langit yang biru tapi kalau tidak punya uang banyak tetep masih sulit, musti sogok sini dulu lalu sogok yang situ nah baru deh bisa diterima

Rupanya kawan saya yang tak pulang-pulang ini secara fisik tak banyak yang berubah , hanya kulitnya yang tambah putih dan dagunya ditumbuhi jenggot yang sepertinya sengaja tidak dicukur. Ketika saya bertanya-tanya ternyata memang bukan hal tabu bagi seorang santri tidak mudik bertahun-tahun karena itu adalah suatu tirakat yang memang sangat besar peranannya guna mencapai keberhasilan “mencari ilmu itu ya begini, ndak mudah, butuh kesabaran mas” kata salah satu sahabat teman saya.

ternnyata meskipun saya teman karib bin sahabat dekatnya masih banyak hal yang tidak saya ketahui tentangg dia. Setelah lama saya berbincang akhirnya teman saya ini mulai bercerita tentang kenapa ia dulu memilih ke pesantren , kenapa ia tak pernah pulang dari pondok dan sekali pulang langsung boyong

“jadi begini ceritanya… Kamu masih ingat kan aku dulu tidak bisa tidur diruangan yang beratap kalau ada bulan bercahaya dilangit? Rasanya memang seperti itu, aku hanya tidak terima melewatkan sebuah pemandangan yang mampu membuatku mengerti hidup ini “katanya membuka kenangan

“he-eh…” aku mengangguk tapi masih bingung

“intinya kalau aku melihat bulan aku seperti melihat Tuhan, meskipun begitu aku gak menyimpulkan bahwa Tuhan itu berbentuk seperi bulan loh… sebab Dia itu Laisa Kamitslihi Syai’un, entahlah terlalu sulit untuk dikatakan. Makanya aku teriak-teriak kalau tidak melihat bulan karena aku seperti kehilangan diriku sendiri. ”

“sampai sekarang ?” kataku mulai heran soalnya dia mengalami hal itu sejak kecil.

“hahaha diminum dulu kopinya, kita boleh menikmati suasana tapi jangan terlalu terbawa ah”

“hehe yoi yoi….”

“kejadian yang istimewa menurutku itu ternyata hanya bisa aku rasakan sampai kelas dua SMP saja,, Setelah itu kalau aku melihat bulan ya melihat bulan saja tidak mampu lagi merasakan kebesaranNya. sungguh rasanya saat itu hidupku tidak tenang, sampai akhirnya dipenghujung SMA aku menggebu untuk mencari sesuatu yang hilang itu dan Alhamdulillah tembusnya ternyata disini dipesantren ini, tapi setelah ketemu sekarang gak pakai teriak-teriak lagi hehehe”

Bersambung…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s