Ngintir Takdir


“Tuhan……
Lihatlah ! Lihatlah ! Lihatlah !
Hahahaha kenapa Kau diam saja wahai Sang Penguasa? Atau memang aku yang tak mendengarMU? Hahahaha baiklah maafkan aku Tuhan”

Setiap malam menjelang pagi aku selalu mendengar suara semacam itu, suara yang entah siapa aku tak mengenalnya. Seorang pak tua dengan baju rombeng dan rambut panjang yg gimbal kusut tak pernah tersisir akan ku temui bila malam akan menyongsong fajar, dulu kukira itu adalah hantu atau apalah sejenisnya namun setiap suara itu melengking segera kubuka jendela kamar dan melihatnya , oh ternyata dia hanya sesosok pak tua dipinggir jalan yang Kata orang-orang sudah sinting .
Pak tua itu selalu berjalan memutari desa kami pada waktu sahur tapi malah bila bulan ramadan dia tak pernah terlihat , ia hanya ada pada waktu sahur dibulan-bulan biasa

Sebenarnya aku kurang suka bila orang-orang menyebut pak tua itu sinting, justru saat seperempat malam tiba pak tua itulah yang ‘telaten’ membangunkan manusia lalai dari lelapnya mimpi dan menggerakkan untuk bermujahadah pada Tuhan. Dia orang baik, orang yang sepertinya bahagia bersama Tuhan, hanya saja pak tua itu memilih jalannya sendiri yang menurut khalayak umum menjijikkan tp menurutnya itu adalah jalan bebas tanpa hambatan. Mungkin…

***

Kulirik jam dinding yang detaknya sedari tadi seperti menghinaku, jarum pendek dan panjang tepat diangka 3, jiwaku masih belum selaras dengan ragaku yang sebenarnya sejak matahari tenggelam tadi ingin terlelap . Banyak masalah berkecamuk lompat kesana-sini dibenakku dan imbasnya pun mata sulit terpejam.
aku muak dengan semua ini !
Belakangan, aku merasa bahwa takdir adalah musuh terbesar umat manusia, takdir adalah kemunafikan yang di bingkis ketololan, takdir adalah pahitnya kebahagiaan, takdir adalah darah amis dari kenyataan . Kau tau kan?
Seringkali rencana besarku digorok takdir padahal kakiku hampir patah untuk mengejar impi, sudah sebegitu lelah kutahan dahaga berharap diujung kan ada penyejuknya tapi apa? Lagi lagi takdir mengacaukan segalanya . Ya kuharap yang membuatku gelimpangan sulit terpejam ini juga bukan takdir atau utusannya.

“Hey..! Hey…!
Kalian sabung ayam ya? Buyar-buyar semuanya !!! Ha ha ha tidak usah takut… Kita semua sama ha ha ha”

Mendengar suara itu aku segera bangkit membuka tirai jendela karena aku sedikit penasaran dengannya Ternyatap seperti dugaanku masih seperti malam kemarin -dengan kaos merah tak layak pakai dan celana rombeng beserta kantong plastik hitam ditangannya- pak tua itu ‘nggeremeng’ sepanjang jalan, namun begitu terkejutnya aku saat tiba-tiba dia menghentikan langkah dan menatapku tajam, Tentu seketika jantungku berdetak cepat dan ngeri melihatnya . Tanpa aba-aba segera kututup kembali tirai jendela dan ku atur lagi nafasku yang ngos-ngosan seperti baru dikejar srigala,

“hey ! Keluar kau ! Keluar … ”
Aku semakin tak karuan oh apa lagi ini?
“hey ! Jika kau tak keluar maka aku kesitu menjemputmu ! Ha ha ha”
Busyet, bagaimana ini? Aku tak ingin pak tua itu masuk kerumah dan mengganggu keluargaku… Baiklah kutegapkan kaki dan kubuka tirai jendela
“hmmm…” dari balik jendela ku anggukkan kepala isyarat bahwa aku akan keluar menemuinya, kenapa harus takut? Jika diajak adu kepalan tangan aku tak mundur tapi semoga saja tak ada apa-apa Karena aku tak suka kekerasan
Pelan-pelan setelah kututup pintu rumah kulangkahkan kaki menemui pak tua yang terlihat ikhlas menungguku dibawah sorot lampu kuning penerang jalan itu

“ha ha ha… tak usah takut, kita semua sama, ayo ikuti langkahku anak muda”
“kemana pak???” sahutku cepat
“menemui Tuhan” jawabnya sambil mlengos meneruskan langkahnya
Aku masih ragu sembari memandang punggungnya yang mulai berjalan , entahlah mungkin dia memang benar-benar gila !
Ah masa bodoh seperti kerbau dicocok hidung ku ikuti saja tapi baru beberapa langkah kakiku bergerak mendadak ia berhenti

“kenapa kau mengikutiku ?” ketusnya
“aku ingin bertemu Tuhan”
“ha ha ha apa kau mencium bau ini ?”
“Hmmm yah ini bau bangkai”
“kau suka?”
“tidak sama sekali”
“lihat apa dibawah kakimu !”
Oh sial aku menginjak bangkai tikus ! Pasti ini ulah takdir… Maka cepatlah Segera kuangkat kakiku
“itu adalah jelmaan rasa benci mu, jika kau tak membuangnya maka bangkai itu akan slalu bersamamu dan tentu kau sangat jijik dan tak menyukainya begitu pun orang disekelilingmu… , benar seperti katamu bahwa ini semua adalah takdir tapi salah dugaanmu jika takdir adalah bangkai itu”
“tapi pak bukankah…”
“CEPAT PULANG ! ! !” bentaknya keras sekali , hah aku pun kini menjadi benar-benar takut tanpa pikir panjang aku langsung kalangkabut berlari masuk kedalam rumah . Benar bentakannya begitu keras hingga tak bisa membuatku membantah lagi .

***

sampai matahari mulai terbit, aku masih menyimpan getar rasa takut oleh gertakan pak tua semalam, bagaimana tidak? dia hampir mengetahui apa apa yang berseliwer dalam hidupku . Berarti benar dugaan awalku bahwa dia memang bukan orang gila ! Mana mungkin pertanyaan dan hulu-hilir masalahku bisa mudah ia jawab dengan hanya bermodal bangkai ?
Kumohon kalian Tak usah ikut menjawab , sepertinya memang benar ini semua adalah takdir dan selamanya kita tak mampu menikmati takdir jika masih menggenggam bangkai.

# 22,4,12 – Wapenk

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s