Silsilah Kopi

Ayah mengajariku menanam sebuah kopi
merawat dan menyimpan sebuah kepahitan menjadi rasa
Ibu mengajaraiku tanam tebu
mengolah kerasnya hidup menjadi butiran-butiran yang manis

aku tumbuh besar dari hal-hal yang tak besar
sesederhana timang-timang ibu
aku berkembang tanpa sesuatu yang istimewa
sesederhana keringat ayah misalnya

aku secangkir kopi
begitu ibu dan ayah menasehati
tanpa sifat lagi.

Resep Agar Tak Mati Karena Kangen

Kupetik sebuah daun tua yang enggan lepas dari tangkainya
Saat kangen
Aku tak mengerti tak juga peduli apapun kecuali dia
itulah sebab tubuhku kerempeng dan ibu selalu marah

Jariku mencalar lembut dan menulis namanya pada daun-daun
Meski mata tak bisa mengetahui bekasnya
Tapi hatiku dan pasukan ajaibnya bersorak riang

Kurebus daun tua bertulis namanya
Dan menyeduhnya usai kutulis sebaris puisi
Hidup orang-orang sesekali harus meniruku
Membohongi diri
Menyajikan hangatnya harapan
Melupakan segala ketidakmungkinan
Agar kangen tak rubah menjadi racun.

Hatimu dalam Lukisan Hatiku

Hatimu seperti bumi
Airmata menumbuhkan pohon-pohon disana
Tawamu adalah rembulan yang purnama
Lalu Pengetahuan menghembuskan angin darimana saja

Kulukis pemandangan itu
Di hatiku yang seperti kanvas
Warna-warni dan berbekas
Kubingkai dengan waktu yang tak berbatas

Tiap inspirasiku tergantung pada cuaca hatimu
Mulai mendung hingga pelangi
Jadi diriku tak pernah menentu dalam mencintai dan melukismu
Karena menggambarkan hatimu ke hatiku
Bukan keinginanku.

Aku Akan Berhenti

Sudah terpikir panjang hingga menembus jantungku
Aku akan berhenti dan memulai hal baru
Bukan karena hatiku telah diketuk lagi
Atau karena hidupku yang terlalu sepi

Sudah kubilang berulangkali, aku akan berhenti
Bukan sebab kulit dipipimu mulai melipat-lipat
Atau sebab menanggungmu semakin berat

Sudah sekian jarak kita lewati
Namun aku memilih berhenti
Jika sampai hal itu terjadi
Bersama orang lain kau pergi
Sedang padaku senyummu tetap berarti
Aku akan berhenti.
 

 

Kekuatan Bertahan

Salah satu kekuatan yang tidak bisa diukur adalah bertahan, kita tidak bisa membandingkannya, karena bertahan berarti membahas diri sendiri. 

Saking tingginya nilai pertahanan seseorang akan dirinya sendiri, nabi pun menyampaikan bahwa menahan amarah itu lebih baik bagi seseorang daripada melepaskannya yang bisa merugikan orang lain.

Selain menahan emosi, ternyata menahan cinta termasuk ritual sakral yang bernilai tinggi, banyak kisah yang mengabarkan bahwa seseorang bisa masuk surga karena ia tak sempat menyampaikan rasa cintanya. Bahkan menurut sebagian pendapat ulama, orang yang mati dalam keadaan memendam cinta bisa dikatakan syahid akhirat. Dikatakan syahid karena dia jihad melawan nafsu cinta yang sangat lembut.

Jika dikaitkan dengan ilmu tasawwuf, seperti yang pernah sampaikan disini, bahwa tidak mempertahankan atau mengumbar keajaiban batin yang telah diberikan Allah itu sama halnya dengan mengumbar aurat. Jadi memang begitu penting bagi kita untuk bertahan. Misalnya, kita menahan untuk tidak ikut campur urusan orang lain. Karena biasanya kita sering nimbrung terhadap hal-hal yang sebenarnya tanpa ada kita pun hal itu bisa selesai dan berjalan lancar. Kita sering sok tau dan sombong melepaskan pengertian-pengertian yang kita miliki.

Intinya, kalau kita sanggup menahan rasa, ya kita tahan saja. Sebab untuk melepaskannya kita masih belum memiliki tali agar rasa itu tetap terkendali.