Mencintai dengan Cara yang Sepi

Mereka yang terluka, menghabiskan waktunya untuk menutup kesempatan dan menitikkan air mata, sedang ia yang jatuh cinta cenderung menyibukkan diri dengan yang dicintai dan menjadi tak peduli selain cinta.

Terus terang aku sedang terluka, telah lama aku menepikan harapan dan kesempatan, kemudian aku terluka lagi menyadari bahwa ia telah pergi.
Aku tak pernah tahu bahwa selama ini luka dalam diriku tak sembuh dengan begitu saja, tiap luka selalu membaik atas sebab-sebab, meskipun tak terlihat.

Karena aku kira, tiap manusia selalu memiliki obat tak terlihat. Dia yang selalu cemas saat kita sakit dan diam-diam mendoakan dari kejauhan, dengan caranya yang sepi.
Dia mencintai kita dengan doa, dan kemungkinan kita tak mengetahuinya.

Iklan

Hijab Style yang Aneh

Halo hijabers, terus terang tulisan ini dibuat untuk mengkritisi kaum Hawa yang sudah melakukan kebaikan tapi nanggung. Sekali lagi ini pendapat pribadi saya yang suka mengorek kesalahan orang lain.

Sebelumnya, saya pernah terheran-heran melihat wanita yang berjilbab tapi memakai kaos pendek, atau berjilbab tapi rambut depannya sengaja diperlihatkan, kali ini tambah lagi komentar saya tentang wanita berjilbab yang demen swafoto atau lebih kita kenal dengan istilah selfie.

Hijabers yang rajin unggah fotonya sendiri dan mencoret-coret atau menutupi dengan stiker pada bagian jidatnya itu biar apa?
Kalau jawabannya adalah karena foto tersebut ada rambut yang terlihat dan harus ditutupi, harusnya pilihlah foto yang benar-benar rapat, pakailah jilbab yang rapi sesuai syariat, bukan sesuai tren. Jangan salah tafsir, jilbab yang sesuai syariat agama bukan hanya Hijab syar’i yang panjang itu, jadi jangan merasa paling islam mentang-mentang memakai Hijab Syar’i.

Selain itu, wanita yang unggah foto kemudian wajahnya ditutup editan stiker, supaya apa?
Atau wanita bercadar tapi demen dengan swafoto atau selfie, tanggung sekali kalian bercadar kalau masih berharap like dan dipandang orang lain.
Ya buat apa repot-repot unggah foto yang tertutup, bukankah sama saja hasilnya andai foto itu tidak diposting? Kan sama-sama tak terlihat.
Kalau sembunyi ya sembunyi, sekalian zuhud! Jangan diunggah fotonya, bila perlu jangan main sosial media.

Udah bagus mau mengenakan jilbab, daripada tidak“, halo? Bukan begitu perbandingannya.
Andai kebaikan bertolak ukur demikian, iman kita pasti kian hari kian melemah. Kalau masalah ibadah jangan melihat ke bawah, ingat pesan nabi ketika kita melihat perkara duniawi lihatlah mereka yang di bawah agar dapat bersyukur, tapi lihatlah orang yang lebih baik di atas kita dalam perkara agama, agar ibadah kita kepada Allah semakin meningkat.

Resiko Beribadah

Jadi santri itu rumit, berat dan sedikit cupu.
selain harus siap dimintai pertanggungjawaban akhirat, juga harus siap menghadapi cibiran orang yang mengatakan bahwa santri pekerjaannya tak menentu, urusan materi pastilah tertinggal. Meskipun kenyataannya begitu, santri tidak boleh pendek dalam berpikir.

Begini, Mahasiswa itu lebih berat juga lebih besar resikonya. Orang tua berani membiayai sekian juta demi anaknya agar mendapatkan pekerjaan yang pantas dan memiliki materi yang cukup. Dibalik semua itu, Mahasiswa lebih beresiko menjadi cibiran masyarakat apabila mereka hanya menjadi seorang pedagang atau jasa kurir.

Masalahnya, misal saja tujuan hidup ini adalah duniawi, maka pendidikan bukanlah taruhannya. Pun sebaliknya, karena tujuan hidup adalah akhirat, jenis pendidikan juga bukan penentu berhasilnya seseorang.
Maksud saya, semua orang pasti beresiko. Hanya saja yang lucu adalah kenapa manusia malah memilih yang beresiko? Kenapa tidak ambil aman saja.

Maling ayam itu juga berat, harus bangun malam untuk melakukan pekerjaannya dan sangat beresiko. Tahajud itu juga berat, harus bangun malam untuk mendapatkan pahalanya tapi tidak beresiko kan? Padahal tidak beresiko, kenapa kita tetap tidak melakukannya.

Penjelasan

Benar katamu, aku binatang
Mencintai dengan tujuan
Hatiku rimba tuk tubuhmu
Tapi aku menyimpan maumu

Mestinya kamu segera kembali
Sedang aku menjadi sepi
Aku cemas, kamu tak mengerti
Tuk bahagia tak perlu dipaksa

Kalau kamu bertanya kenapa aku tega
Aku akan mengaum dan tertawa
Biar luka menuntunmu ke surga

Bahagia Tidak Lahir dari Kenangan

Saya masih bingung sama orang yang selalu mendewakan waktu yang telah lewat, katanya zaman sekarang beda sama dahulu. padahal kalau mau mikir, sebenarnya zaman sekarang ini adalah ‘zaman dahulu’ yang akan datang.

Andai kita kurang bahagia dengan kehidupan saat ini, perbandingannya bukan dengan kehidupan yang telah lewat. karena apapun yang sedang kita jalani saat ini kelak juga akan menjadi kenangan, oleh sebab itu kebahagiaan atau kebaikan tidak melalui proses matematis seperti itu.

Jika kita berhasil mengahafal angka satu maka di kehidupan berikutnya kita akan menghadapi angka dua, tiga, empat, lima dan seterusnya. saat kita berada pada waktu ‘menghafal angka dua’ secara tidak langsung kita akan mengungkit kenangan mudahnya menghafal angka satu yang berbentuk lurus. kita tidak boleh mengambil kesimpulan bahwa angka satu lebih baik karena mudah untuk dihafal, sebab suatu saat setelah kita berhasil hafal bentuk angka dua, kita juga akan mengungkit bahwa ternyata angka dua lebih baik dan mudah dihafal daripada angka tiga.

Memang seperti itulah tataran hidup, bertingkat-tingkat dan absolut.

“Yang paling mengagumkan imannya ialah orang-orang yang datang sesudah wafatku dan beriman kepadaku sedang mereka tidak melihatku dan mereka membenarkanku, mereka itulah saudara-saudaraku.” – Muhammad SAW.

Bahkan Nabi dalam Hadis di atas tidak mengunggulkan sesuatu yang kelak menjadi kenangan, akan tetapi beliau mengapresiasi terhadap orang yang dengan gagah menghadapi hidup seperti kita hari ini.