Senja di Kadiri

Kala itu, usai shalat maghrib saya sengaja duduk-duduk di serambi sambil mengamati kendaraan yang sibuk menuruti tuannya masing-masing. selain itu kaki ini juga ingin dimanjakan sebentar setelah beberapa jam nangkring diatas mesin.

karena saya tipe penikmat perjalanan, saya sendiri saja waktu itu. namun saya akhirnya akrab dengan seseorang yang baru saja saya kenal di musholla itu. kami pun berbincang tipis tapi cukup berbobot. 
“dari mana mas?” ia membuka

“eh emm dari jawa tengah” jawabku yang setengah kaget

“sendirian?” 

iya sendiri, kenapa emangnya ha? mau ngledekin ciye jomblo ciye, gitu? batinku

“hehe geh pak” asal ku iyakan saja

“sendiri itu kadang ada enaknya ada enggaknya mas, tapi kalau udah terbiasa ya tenang-tenang aja sih”

“lho bisa gitu ya pak?” aku pun mulai tertarik, karena pengetahuan yang begini jarang kutemui di buku-kitab. setelah lumayan akrab, perbincangan kami pun tembus ke ranah yang membuatku ingin nikah eh tidur ding, mumet soalnya mencerna omongan bapak satu ini.

Beliau pun berkisah, bahwa dulu waktu seumuran saya. bapak ini ya hidup seperti sewajarnya orang, sekolah, bekerja, ngopi dan sebagainya, sekarang hidupnya menjadi pelana mengikuti kemana kaki melangkah. 

Patah hati, itulah yang menjadi awal mula beliau berpindah haluan menikmati kehidupannya sendiri dan meninggalkan kampung halaman kira-kira sudah 23 tahun, sesekali memang kadang menemui keluarganya tapi tak pernah lebih 3 hari. ia benar-benar sendiri, secara fisik penampilannya berantakan tapi tidak bau dan tidak menjemukan karena meski sudah terlihat tua wajahnya tetap bersih, husnudzon saya beliau ini sering wudlu.

Beliau mengingat kembali bagaimana hancurnya hati saat dikhianati oleh pacarnya. kata orang-orang bapak ini sudah gila karena cinta, beliau sering dicaci-maki, dibodoh-bodohkan temannya “wanita gak cuma dia, Dul”  nama aslinya Abdul Muhib.
Masyarakat bahkan keluarganya sendiri salah persepsi, itulah yang membulatkan tekat bapak ini untuk angkat kaki, karena beliau tak ingin mempermalukan keluarga. 

“saya dulu gak bisa jelasin ke orang-orang mas, sudah terlanjur ya tak nikmati wae” sehari setelah ditinggal pacarnya akad nikah, hati Abdul Muhib muda itu seperti terbuka dan memandang sebuah pengertian yang aneh. beliau berfikir lha wong manusia saja ketika dihianati, ditinggal pergi dan ditinggal bahagia bersama orang lain mengakibatkan kecewa yang begitu besarnya, apalagi Tuhan? secara rasional, kita ini kan tidak menciptakan, tidak bisa memberi apa-apa pada pasangan tapi kok sakit hati saat dia pergi, kita selalu menuntut imbal balik seakan-akan kita telah berkorban dan berjasa besar pada kekasih, padahal tidak demikian.

menurut beliau, kalau manusia tidak seharusnya seperti itu, karena sejatinya tidak memiliki apa-apa, dan hal itulah yang terus memutar pikiran pak Muhib untuk sendiri karena sebuah alasan beliau tidak ingin membuat Allah kecewa dan pergi menjauhi-Nya. maka benar adanya bahwa musyrik (menyekutukan) adalah dosa terbesar yang tak bisa diampuni.

saya pun hanya menyeringai sambil teringat bayangan mantan yang sekarang sudah bahagia bersama suaminya heuhue. 

Ketika Anakmu Tak Lagi Menangis, Dik.

Kesan pertama memiliki anak sungguh penuh keajaiban, kau selalu tambah cantik ketika bingung. wajahmu yang polos itu, mirip anggun rembulan yang kesiangan

Mas, anak kita kok tidak menangis lagi, katamu.

aku hanya tersenyum sambil menutupi pintu rumah karena kulitmu dan kulit anakku tak boleh disentuh siapapun, termasuk dingin.

itu tandanya anak kita ingin berbagi air mata, kataku.

Kau mengerutkan kening dan perlahan menidurkannya di ranjang

begini, dik.

“anak kita sudah jarang menangis karena beberapa alasan

pertama, ia ingin menunjukkan kalau ia lahir dari ibu yang kuat, tak pernah sembarangan mengeluh”

kau jadi terkekeh malu dan memukulku tipis

“kedua, mengapa ia tak lagi menangis, karena ia ingin berbagi air mata dengan adiknya”

“bisa gitu ya mas? anak kita kan masih satu” kilahmu

“itulah alasannya, mari segera kita wujudkan alasan kedua itu”

tiba-tiba kau tersenyum lalu matikan lampu

tapi sayangnya anak kita menangis lagi.

Allah Tak Peduli (bag. 2)

Allah selain memiliki Sifat Jalal, juga memilik sifat  Jamal  yang menjadi lawannya, bagaimanakah sifat Jalal Allah? Yaitu sifat agung yang mana Allah tak peduli seberapa taatnya seorang hamba, tapi jika Allah menghendakinya untuk suul khotimah maka semuanya bisa terjadi, lebih lengkapnya ada di Allah Tak Peduli (bag. 1).

Sedangkan sifat Jamal adalah kebalikannya, secara harfiah bermakna Indah, adapun pengertian istilahnya yaitu sifat murah Allah atau yang berhubungan dengan roja’ (harapan)

Meskipun ada seseorang yang memiliki sifat sangat terpuji, ibadahnya baik dan taat. tapi kalau sudah terkena Sifat Jalal Allah, Allah tak peduli, orang tersebut bisa saja dimasukkan ke neraka. Dan juga jika ada seorang yang sangat tercela akhlaknya, selalu berbuat maksiat. Namun bila Allah menghendakinya untuk dimasukkan ke Surga itu bisa saja terjadi, karena Allah sekali lagi memiliki sifat Jamal.



Jika seorang hamba selalu memikirkan Jamal Allah ini, maka hidupnya akan cenderung penuh percaya diri sehingga mengakibatkan ceroboh. Karena ia akan terus bergantung pada kemurahan Allah atau roja’ (harapan) tanpa mempertimbangkan unsur-ubnsur ibadah, kita tidak boleh terlalu membesarkan perasaan ini, begitu juga kita tidak boleh terlalu  khouf (takut) atau yang dikenal dengan sifat Jalal diatas tadi.
Mungkin akan lebih mudah dipahami melalui kisah, menurut cerita ada seseorang bernama Barom Al-Majusi, dia adalah manusia yang memiliki akhlak buruk. Pekerjaannya adalah rentenir, dia adalah orang yang sangat perhitungan duniawi, ia memiliki 4 anak perempuan yang dinikahkan dengan 4 anak laki-lakinya juga. Karena ia tidak mau repot dan rugi. Bahkan ketika istrinya melahirkan anak perempuan lagi, Barom pun menikahinya sendiri. Parah bukan?

Sampai suatu ketika, Barom yang bakhil itu mendapatkan sifat Jamal Allah sehingga ia husnul khotimah dan masuk ke surga. Penyebabnya hanya sekali saja Barom merasa iba terhadap 3 anak yatim yang belum makan 3 hari, ia pun memberi mereka makanan. Dan itulah yang menjadi penyebab ketika Barom akan meninggal ia mengucapkan syahadat dan dihapuskan dosanya. 

Allah tak peduli!, saya ingatkan kembali bahwa meskipun demikian jangan sampai berpikir Allah tidak adil, wah kacau kalau kesimpulannya seperti itu. Kalau kata Guru saya: dan Dia-lah Dia. manusia mah tidak pernah bisa mengerti apa kehendak Allah.

Intinya jangan sampai kita tidak berbuat apa-apa, pasrah bongkokan gitu jangan! Manusia diciptakan Allah untuk beribadah, selalu berharap pada-Nya. tapi ketika sudah berada di tataran bisa beramal baik jangan mengaku-aku paling hebat seakan-akan pasti masuk surga. Kita juga harus khouf takut akan kecerobohan yang suatu saat bisa menjerumuskan kita.

Demikian, mohon maaf dibatas kata. Wallahu a’lam bisshowab.

Lebih Utama Syariat atau Hakikat?

Mengapa saya jadi berpikir bahwa belakangan ini banyak orang megunggul-unggulkan ilmu hakikat dan memandang rendah sebuah syariat? 

Hakikat secara pengertian buta saya yaitu ilmu yang membahasa tentang inti atau hal-hal yang mengarah pada kebatinan, sedangkan syariat adalah peraturan tampak (luar) yang membahas segala ketaatan makhkuk secara fisik vertikal maupun horizontal.

Keduanya hanya istilah dari macam-macam disiplin ilmu yang banyak bertebaran di muka bumi. Namun diringkas dan di globalkan dalam dua nama tersebut. 

Jadi untuk memahaminya secara gampang-gampangan, kalau ilmu syariat itu yang berurusan dengan hukum halal-haram, tatacara, sah-tidaknya ibadah atau pekerjaan manusia contohnya sholat, jual beli, nikah dsb. Sedangkan hakikat itu yang berurusan dengan diterima atau tidaknya ibadah dari sisi batin contohnya riya’, dengki, sabar dsb.

Kalau ada orang yang bertanya, lebih unggul mana antara kedua jalan itu? Hakikat apa syariatnya? Jawabannya: ayo ngopi. 

Sebab jawaban itu butuh penjelasan yang lebar dan dengan kondisi fit jiwa raga. Kenapa harus bawa-bawa jiwa? Ya iyalah kan kita akan membahas yang batin atau yang bangsa jeroan. Lha kalau raga? Ya sudah pasti kalau kita ingin membahas apapun butuh terhadap raga, ora keno ora.

Yang jelas, sepengetahuan saya yang tidak tahu apa-apa ini (lho…?), kalau hakikat itu ibarat santan, sedangkan syariat itu kulit kelapanya. Tapi, dalam ekstensi kulit kelapa pun ada hakikatnya, dan sebaliknya, di dalam intisari santan pun ada syariat fisiknya. Mbulet kan?  Ya emang gitu.

Tidak ada yang lebih unggul dari keduanya, semua saling berhubungan seperti sebuah lingkaran. Ya seperti contoh diatas, kelapa tidak bisa benar-benar disebut kelapa kalau dia tidak memiliki santan dan kulit. Ibadah pun demikian, ibadah tidak bisa disebut ibadah kalau tidak ada syariat dan hakikat.

Lalu kalau ada pertanyaan menyusul seperti: lah baiknya didahulukan yang mana ya? Hakikat dulu apa syariat dulu? Untuk jawaban sementara: syariat dulu! Tapi sebenarnya tergantung persepsi juga. Insyaallah kalau diberi kekuatan untuk menjelaskannya, akan saya lanjutkan di postingan yang lain. Wallau a’lam bisshowab.

Ingin Bersedih

Aku ingin bersedih sejak matahari menerobos jendela kamarku dan menangis sampai ia tenggelam disela-sela pohon pisang.

berpikir tak lagi membawa tubuhku pergi dari kekosongan, berpikir hanya meninggalkan kantuk dan kepahaman yang tak kumengerti
sejak aku hilang kendali, aku ingin menenggelamkan diri dalam ketiadaan dan menanggalkan tubuh, karena sulit sekali menguraikan kecamuk hidup dan menyulamnya menjadi syal yang menghangatkan.
aku ingin sekali bersedih meski itu kan mengundang sakit. aku muak dengan candaan diriku sendiri yang malah membuat langkahku gontai.

aku ingin diam dari menertawai kehidupan orang lain dan mulai menutup pandangan kebencian.
tapi aku juga tak ingin larut terlalu dalam di lautan air mata, aku takut terbawa ombak dan hilang kendali tuk yang kesekian. 

aku hanya ingin bersedih tapi tetap mengingatmu dan tak lupa bagaimana caranya berterimakasih.