Bebal

لولا الحمقى لخربت الدنيا

Andai saja tidak ada manusia bodoh, maka rusaklah dunia ini

Kini kepercayaan saya semakin menguat bahwa apapun yang tercipta di dunia ini pasti memiliki hikmah, meskipun hanya lumut di atas batu dan atau kebodohan di ruang rapat.

Saya juga kian mengerti, mengapa banyak orang bebal berani bertaruh setengah mati hanya untuk mendapatkan kekuasan, menebar gaduh sampai sudut-sudut negeri.
tak perlu kita terbawa arusnya, tetaplah tenang beraktivitas merawat keluarga dengan penuh cinta dan selalu berlindung pada Allah SWT.

Bagaimanapun, semua telah sesuai dengan garis Sang Pencipta.
Hiruk pikuk pemilu yang menyebalkan seperti itu pastilah berlalu dan tetap menyimpan makna, mereka adalah orang-orang yang memilih jalannya sendiri untuk mengejar dunia dan (mungkin ingin) merawatnya, meskipun cara-cara yang mereka gunakan tak beretika.

Karena orang bodoh adalah orang yang selalu mengejar dunia dan melupakan akhirat. mereka yang ambisinya meledak-ledak hanya mengejar pangkat dan harta sebagai penguasa adalah orang yang masuk kategori pandir.

Oleh sebab itu, kita juga harus memilih jalan kita sendiri.
jalan menuju dunia sudah macet dan berdesakan oleh orang-orang pandir semacam mereka, ini adalah kesempatan kita untuk menapaki jalan hakiki yaitu jalan akhirat untuk mendekat pada Allah, jalan yang masih lebar dan selalu terbuka, jalan pilihan para orang-orang pintar yang beruntung.

Jangan salah sangka, saya bukanlah orang yang anti terhadap pemerintahan.
Kita tidak boleh menafikannya, karena dengan peraturan-peraturan negara, perniagaan maupun sosial bisa berjalan sebagaimana mestinya.
tulisan ini ditujukan untuk penguasa atau calon penguasa yang bebal, bukan untuk mereka yang dengan ikhlas dijadikan pemimpin semata-mata karena Allah.

 

 

Iklan

Traveling Syar’i

Saya menyukai perjalanan, berpindah dari satu tempat ketempat yang lain, bertemu banyak orang yang berbeda suku dan agama, memandangi ciptaan Tuhan yang aduhai tak bisa tertulis indahnya, kemudian “berlagak” menyadari betapa besar kuasa-Nya, masyaallah.

Berdalih silaturahmi untuk memperbaiki kualitas diri di mata orang lain, menyambung persaudaraan yang telah lama memudar. Ya, saya menyukainya, menyukai perjalanan melewati desa-desa, menghafalkan jalanan beberapa kota agar bisa merangkai cerita dan membagikan potret di sosial media.

Lagipula, Ulama dahulu juga banyak yang menjadi travellers. Jadi apa ada yang sungsang dengan saya? Banyak!
Poin utamanya; Ulama melakukan perjalanan sebagai musafir untuk mendekatkan diri kepada Allah, tidak ada embel-embel lainnya “laa maqsuda illa allah”.

Travelingnya ulama bukan sekedar pergi meninggalkan sanak famili dan tanah kelahiran, namun juga meninggalkan nafsu yang ada. Oleh karenanya travellers Allah seperti itu hanya membawa ongkos dan melakukan packing secukupnya, cukup untuk tawakkal dan terus mengingat Allah. Kemudian kembali dengan iman dan ketakwaan yang bertambah, itulah dia musafir.

Travelers itu banyak madlarat dibanding maslahatnya. Percayalah mereka yang bepergian selalu rindu pelukan, masih nyaman di sini rumah kita sendiri.

Kecuali atas nama menafkahi keluarga, untuk saat ini saya kira, traveling bukanlah sesuatu yang patut untuk saya idamkan. Kenapa demikian? Ya karena ngabisin uang lah heuheu daripada buat jalan-jalan mending buat beli kuota, liat google maps, liat rumah mantan juga bisa dan gak sungkan.

Kematian

Mengapa saya bersedih ketika ditinggal mati seseorang? mengapa saya tidak pernah bersedih ketika hati saya yang mati.

Orang seperti saya hanya menangisi ‘keuntungan’ yang ikut pergi bersama orang yang mati, saya hanya cemas dan sedih karena merasa rugi.

Padahal mestinya tiap hari saya bersedih dan meratap karena hati ini penuh dengan penyakit, atau mungkin malah sudah mati.

Bukankah hati adalah sesuatu yang membuat manusia istimewa, yang membedakan antara manusia dan hewan.
Jika hati saya mati dan tubuh masih hidup, lalu apa bedanya saya dengan hewan? Menjalani hidup hanya tentang; makan, bekerja, syahwat, tidur dan mengulangnya lagi.

Mencintai dengan Cara yang Sepi

Mereka yang terluka, menghabiskan waktunya untuk menutup kesempatan dan menitikkan air mata, sedang ia yang jatuh cinta cenderung menyibukkan diri dengan yang dicintai dan menjadi tak peduli selain cinta.

Terus terang aku sedang terluka, telah lama aku menepikan harapan dan kesempatan, kemudian aku terluka lagi menyadari bahwa ia telah pergi.
Aku tak pernah tahu bahwa selama ini luka dalam diriku tak sembuh dengan begitu saja, tiap luka selalu membaik atas sebab-sebab, meskipun tak terlihat.

Karena aku kira, tiap manusia selalu memiliki obat tak terlihat. Dia yang selalu cemas saat kita sakit dan diam-diam mendoakan dari kejauhan, dengan caranya yang sepi.
Dia mencintai kita dengan doa, dan kemungkinan kita tak mengetahuinya.

Hijab Style yang Aneh

Halo hijabers, terus terang tulisan ini dibuat untuk mengkritisi kaum Hawa yang sudah melakukan kebaikan tapi nanggung. Sekali lagi ini pendapat pribadi saya yang suka mengorek kesalahan orang lain.

Sebelumnya, saya pernah terheran-heran melihat wanita yang berjilbab tapi memakai kaos pendek, atau berjilbab tapi rambut depannya sengaja diperlihatkan, kali ini tambah lagi komentar saya tentang wanita berjilbab yang demen swafoto atau lebih kita kenal dengan istilah selfie.

Hijabers yang rajin unggah fotonya sendiri dan mencoret-coret atau menutupi dengan stiker pada bagian jidatnya itu biar apa?
Kalau jawabannya adalah karena foto tersebut ada rambut yang terlihat dan harus ditutupi, harusnya pilihlah foto yang benar-benar rapat, pakailah jilbab yang rapi sesuai syariat, bukan sesuai tren. Jangan salah tafsir, jilbab yang sesuai syariat agama bukan hanya Hijab syar’i yang panjang itu, jadi jangan merasa paling islam mentang-mentang memakai Hijab Syar’i.

Selain itu, wanita yang unggah foto kemudian wajahnya ditutup editan stiker, supaya apa?
Atau wanita bercadar tapi demen dengan swafoto atau selfie, tanggung sekali kalian bercadar kalau masih berharap like dan dipandang orang lain.
Ya buat apa repot-repot unggah foto yang tertutup, bukankah sama saja hasilnya andai foto itu tidak diposting? Kan sama-sama tak terlihat.
Kalau sembunyi ya sembunyi, sekalian zuhud! Jangan diunggah fotonya, bila perlu jangan main sosial media.

Udah bagus mau mengenakan jilbab, daripada tidak“, halo? Bukan begitu perbandingannya.
Andai kebaikan bertolak ukur demikian, iman kita pasti kian hari kian melemah. Kalau masalah ibadah jangan melihat ke bawah, ingat pesan nabi ketika kita melihat perkara duniawi lihatlah mereka yang di bawah agar dapat bersyukur, tapi lihatlah orang yang lebih baik di atas kita dalam perkara agama, agar ibadah kita kepada Allah semakin meningkat.